Halaman

Selasa, 30 September 2014

MERENUNGKAN PAGELARAN WAYANG KITA



Sahabat-sahabat kinasih....

Saya menulis karena sejumlah sahabat meminta untuk memberikan gambaran tentang pagelaran wayang. Bolehlah ini disebut opini atau pendapat saya, tetapi sejak awal saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang jernih (sekurang-kurangnya begitulah harapan saya). Karenanya, saya juga melengkapi tulisan saya ini dengan sejumlah artikel yang berasal dari catatan saya di facebook serta tulisan dan puisi Mbak Ken Atik yang menurut saya bagus isinya dan sangat dalam maknanya. Tulisan saya dan Mbak Ken Atik, semuanya didasari atas kecintaan kita kepada Ibu Pertiwi dan budaya Nusantara. Masing-masing, ditulis dengan caranya sendiri.

Tulisan saya, secara langsung berisi keprihatinan saya terhadap pagelaran wayang kulit, khususnya wayang kulit Jawa, yang menurut saya memang cenderung mengarah ke pertunjukan mata raga dan bukan ke arah pertunjukan mata hati. Dalam hal ini, yang saya maksud tentulah pagelaran wayang kulit yang dilakukan secara tradisional, dan bukannya yang kontemporer.

Tulisan Mbak Ken Atik, berisi keprihatinan beliau tentang berkurangnya kecintaan terhadap berbagai hal yang berasal dari budaya kita sendiri. Seperti misalnya, pakaian, sanggul, dan tradisi. Sedangkan puisinya, bercerita tentang cinta seseorang yang tak bisa menggapai sesuatu yang dicintainya. Puisi lainnya, bercerita tentang kemarahan hati yang luar biasa, karena kondisi lingkungan dan keadaan.

Saya sengaja menyertakan tiga tulisan dan dua puisi ini, supaya kita semua bisa memahami, bagaimana kita berdua (saya dan Mbak Ken Atik) berpikir dan berpendapat tentang budaya kita, tentang kecintaan kita, dan tentang semua upaya kita dalam rangka mencintai Ibu Pertiwi....

__________________________________________________________

Bagi saya, suatu pagelaran wayang bisa saja dilakukan menurut versi dan keinginan kita masing-masing. Sejumlah sahabat saya, berpendapat bahwa pagelaran wayang tradisional tidaklah boleh dicemari dengan berbagai hal yang bersifat merendahkan atau membuat nilai-nilai yang adiluhung menjadi luntur dan buruk. Saya sendiri juga sepakat dengan pendapat ini. Di lain pihak, suatu pagelaran wayang yang bersifat kontemporer, bisa saja menghadirkan berbagai hal yang sangat 'tidak tradisional', sangat asing, baru, atau tidak umum. Menurut saya, hal ini juga boleh-boleh saja.

Bagi saya, kedua hal yang berbeda 180 derajat itu, didasari oleh kecintaan yang sama dan upaya untuk melestarikan budaya. Lepas dari apakah saya setuju atau tidak dengan salah satu dari kedua versi itu, saya tetap berpendapat bahwa keduanya sama-sama berhak untuk dipagelarkan. Masing-masing versi itu, kenyataannya mempunyai komunitas, pendukung, dan penggemarnya.

Dengan pemikiran itulah maka saya dengan sejumlah sahabat yang menjadi panitia Bandung Wayang Festival 2011, berusaha mewadahi semua versi itu, bahkan sampai kepada hal-hal yang mungkin sangat jauh dari bayangan kita tentang pagelaran wayang. Misalnya, mewadahi juga konser band hard rock, underground, atau metal, yang memakai tema wayang. Juga lukisan wayang, kain batik, tekstil, patung, komik, novel, poster, action figure, boneka, puisi, sastra, cerpen, drama, foto, gambar, kartu, keramik, tari, konser, mainan anak-anakm kartun wayang, wayang kardus, horoskop wayang, pawukon, atau sekedar cinderamata. Pokoknya, semua hal yang memakai 'wayang' sebagai tema. Wayangnya pun tidak dibatasi, boleh wayang apa saja dan dari mana saja.

Saya dan sejumlah sahabat saya berpendapat, semua hal ini, sebenarnya didasari atas kecintaan kepada wayang. Hanya saja media dan caranya yang berbeda-beda. Kaum remaja dan muda, mungkin lebih suka kepada hal yang bersifat baru, kontemporer, asing, dan mungkin saja sama sekali tidak dikenal di dunia tradisional. Sementara mereka yang sudah menginjak dewasa dan 'sepuh', bisa jadi lebih menyukai yang sangat tradisional.

Bagi saya dan sejumlah sahabat yang bergerak di BWF 2011, para pemuda/i dan remaja yang asyik masyuk dengan hal-hal yang baru dan sangat kontemporer itu, tetaplah harus dipandang sebagai bibit awal, yang nantinya juga akan mulai tertarik kepada sesuatu yang bersifat sangat tradisional.

Ingatlah kita bagaimana Bapak Sukasman almarhum (kreator Wayang Ukur), yang semula (saat beliau masih relatif muda) menganggap wayang kulit purwa sebagai produk kuno, ketinggalan jaman, dan sudah tidak cocok dengan kemajuan jaman. Beliau beranggapan, wayang kulit purwa ini harus diperbarui konsep, bentuk, dan rupanya; secara progresif revolusioner. Hasilnya, beliau secara sangat serius dan sepenuh hati (dan kecintaan tentunya) membuat wayang kulit versi baru, yang kemudian kita kenal sebagai 'Wayang Ukur'. Dalam perjalanan karyanya, setelah sekian tahun kemudian, ternyata beliau baru menyadari dan bahkan mengatakan bahwa apa yang beliau lakukan itu merupakan suatu kesalahan besar (itu kata beliau), sehingga beliau pernah meminta kepada pemilik Wayang Ukur generasi pertama, supaya mengembalikan saja seluruh Wayang Ukur hasil karyanya, jika perlu uangnya (yang sudah diterima beliau) akan dikembalikan lagi. Dan, yang membuat kami semua benar-benar terkejut, adalah beliau berkehendak membakar seluruh wayang ukur hasil karyanya itu! Sebagai catatan, Wayang Ukur generasi pertama itu, sekarang disimpan di PSTK-ITB.

Saya dan sejumlah sahabat yang juga cinta wayang, justru berusaha supaya upaya membakar karya seni itu tidak terjadi. Bagaimanapun juga, Wayang Ukur merupakan salah satu hasil karya wayang yang menurut saya sangat indah. Karena itu pula, kami sangat menghormati Bapak Sukasman sebagai kreatornya. Kalaupun beliau akhirnya menyatakan ketidak-sukaannya secara sangat ekstrim terhadap Wayang Ukur hasil karyanya itu, bagi kami tetap merupakan sebuah karya seni yang sangat indah dan patut dipertahankan keberadaannya.

Mengapa hal ini saya ceritakan kepada anda sahabat-sahabat saya? Karena seseorang yang memandang rendah sesuatu yang sangat tradisional, dan berusaha memperbaiki atau mengembangkannya menjadi sesuatu yang baru (sekurang-kurangnya menurut versinya sendiri), bisa saja akhirnya berkesimpulan seperti Bapak Sukasman itu.

Berpedoman kepada peristiwa itulah, maka seseorang yang membuat kreasi baru, kontemporer, asing, tidak lazim, atau sangat tidak tradisional; suatu kali pastilah akan menyadari bahwa justru sesuatu yang bersifat tradisional itu bisa saja akhirnya disadari sebagai sesuatu yang memiliki filosofi jauh lebih dalam daripada yang dibayangkannya saat pertama kali mengenalnya. Jauh lebih indah dari pada apa yang dilakukannya dan dipandang sebagai suatu 'pembaharuan'. Pada saat mengawalinya, mungkin saja pembaharuan yang dilakukannya menghasilkan sesuatu yang spektakuler, sangat baru, dan mungkin juga sangat berbeda dengan yang dipikirkan orang lain. Mungkin juga hal ini bisa dipakai untuk menyombongkan diri: "Lu masih mau juga maen wayang kulit purwa yang kuno dan ketinggalan jaman itu?" Atau: "Lu masih pakai teknologi kuno begitu? Liat gue dong, gue kalo maen wayang pake komputer, pake 'screen' (layar lebar), pake LCD projector dong, pake animasi dong! Kita sih gak pake lagi 'blencong' kaya lu! Kuno lu!" Menurut saya kata-kata semacam ini wajar saja. Bukankah padi sewaktu masih muda memang mengarah ke atas, dan baru merunduk ke bumi setelah menginjak dewasa? Jadi, hal itu merupakan peristiwa yang wajar saja. Perjalanan waktulah yang akan menguji, apakah apa yang dilakukannya itu benar-benar bisa diterima di hati masyarakat dan komunitasnya atau tidak.

Ingat juga, saat Ki Narto Sabdho almarhum melakukan penggabungan dan mencampurkan antara pagelaran wayang gaya Surakarta dengan gaya Mataraman, dan bahkan dengan gaya Banyumasan dan Sunda. Bukankah saat itu beliau juga 'dimarahi' dan 'dihujat' banyak orang dan banyak pihak yang mengatakan bahwa beliau dipandang melanggar/merusak pakem, melanggar tata-krama, dan melanggar adat-istiadat? Namun, apa yang terjadi setelah beberapa tahun kemudian? Beliau ternyata dinyatakan sebagai dhalang paling populer di Nusantara! Bukankah sekarang hampir semua dhalang terkenal memainkan wayang dengan pola seperti yang ditampilkan Ki Narto Sabdho? Sewaktu awal perjalanan karyanya, bukankah Ki Narto Sabdho dalam pagelaran wayang selalu memakai 'dhagelan' bahkan hampir sepanjang pagelaran (sepanjang malam)?

Ingat juga Pak Asep Sunandar Sunarya, seorang dhalang wayang golek Sunda, memakai cara yang sama seperti yang dilakukan Ki Narto Sabdho almarhum. Sepanjang pagelaran penuh 'dhagelan'. Panakawan, bahkan bisa ditampilkan sejak adegan paling awal! Bukankah beliau berdua itu, awalnya bisa dikatakan melanggar pakem?

Tapi setelah beberapa tahun kemudian, yaitu setelah penonton mulai terbiasa dengan adegan-adegan ajaib, lucu, dan penuh humor itu; kedua dhalang itu (Pak Asep Sunandar Sunarya dan Pak Narto Sabdho), bahkan kembali ke bentuk pedhalangan yang boleh dikatakan sangat tradisional. Apa yang terjadi dengan penontonnya? Mereka semua telah naik tingkat ke level berikutnya yang lebih tinggi, seiring dengan dhalang (pak Asep dan Pak Narto Sabdho) yang selalu membimbing mereka (masyarakat). Pagelaran wayang, yang semula sangat mengeksploitasi mata raga (jasmaniah), sedikit demi sedikit berubah dan kembali menjadi suatu pagelaran wayang yang mengeksploitasi mata hati (rohani, imajinasi).

Seorang Asep Sunandar Sunarya, yang dulu dikenal sebagai dhalang yang 'merusak pakem' dengan menampilkan leher wayang golek yang bisa terpotong, tokoh wayang yang saat dipukul dari mulutnya keluar mie, saat dipukul keluar cairan merah (mungkin maksudnya menggambarkan darah), dan pagelaran yang penuh dengan guyonan sepanjang malam; sekarang saya kenal sebagai seorang dhalang yang sangat tradisional. Mungkin anda para sahabat saya tidak memperhatikan, pak Asep Sunandar Sunarya, bahkan sesekali memakai 'gender barung' Jawa, untuk mengiringi sulukan-nya. Sekarang, beliau banyak mengekspolitasi tembang, drama, dan cerita. Bukankah sekarang kita mengenal Pak Asep Sunandar Sunarya, sebagai seorang dhalang wayang golek Sunda, yang berhasil mengembalikan pagelaran wayang golek Sunda yang dulunya hanya dikenal sebagai 'pelengkap penderita', diubah menjadi pagelaran wayang golek Sunda seutuhnya, dengan dhalang sebagai tokoh sentral.

Sebagai catatan, di sekitar tahun 1970-an, setiap kali kita nonton wayang golek Sunda, yang dicari penonton saat itu adalah sindhennya siapa, jumlahnya berapa, seberapa cantik mereka, umurnya berapa, masih gadis atau sudah janda, dan jam berapa mereka mau menari jaipongan. Saat itu, orang tidak perduli siapa dhalangnya dan apa ceritanya. Pagelaran wayang golek Sunda saat itu, tidak lebih tidak kurang, hanya pengelaran yang mengawali dan mengakhiri pagelaran jaipongan! Seorang Asep Sunandar Sunarya, telah berhasil membawa masyarakatnya, kembali menjadikan sebuah pagelaran wayang golek Sunda sebagai sebuah pagelaran wayang seutuhnya. Bukan pagelaran yang dipotong-potong menjadi pagelaran jaipongan, dan wayang hanya sebagai awal dan penutup. Ia telah benar-benar berperan sebagai gurunya masyarakat.

Cobalah ingat-ingat kembali masa beberapa tahun setelah Ki Narto Sabdho menjadi sangat terkenal. Bukankah beliau mulai mengajarkan kepada kita sejumlah kata-kata sastra, pepatah, nasehat, atau bahkan 'menghadiahkan' kepada kita sejumlah karya lagu dan gendhing yang sangat indah? Misalnya: Slendhang Biru. Ingatkah anda semua pada tembang awal 'bocah bajang....' yang dinyanyikan sebagai awalan permainan gendhing? Bukankah beliau juga telah berhasil mengubah pandangan masyarakat penontonnya? Ia juga telah menjadi seorang 'guru' yang mengajari banyak hal kepada kita.

Jika saya mengingat perjalanan Pak Asep Sunandar Sunarya dan Ki Narto Sabdho almarhum (perjalanan karya keduanya sangat mirip) dan segala upaya dan perjuangannya, lalu saya melihat pagelaran wayang kulit purwa (Jawa) tradisional yang saat ini banyak digelar pada dhalang (bahkan oleh para dhalang terkenal), terus terang saya sering menangis sedih. Pertunjukan pagelaran wayang kulit purwa yang sangat tradisional, dirusak dan direndahkan, dengan menampilkan pelawak, dangdut, campur-sari, dan sebagainya. Pagelaran wayang kulit purwa Jawa tradisional, terlihat begitu mundur, sampai ke titik nadir yang terrendah, persis seperti masa sebelum pak Asep Sunandar Sunarya melakukan 'revolusi' di sekitar tahun 1970-an. Begitu pula penonton wayang kita di masa sekarang.

Di sinilah saya memandang pagelaran wayang kulit purwa tradisional, telah berubah kembali menjadi suatu pertunjukan fisik yang sangat mengeksploitasi mata raga dan hura-hura semata. Seakan-akan seluruh penonton dianggap tidak lagi mempunyai kemampuan berimajinasi dan merasakan dengan hati. Pagelaran wayang yang semula merupakan pagelaran imajiner, berubah menjadi suatu pagelaran fisik (jasmaniah).

Sejumlah dhalang bahkan tega memainkan adegan dhagelan Limbuk-Cangkik atau gara-gara selama berjam-jam, sehingga seluruh alur cerita pagelaran menjadi rusak. Beberapa di antara mereka mengatakan, bahwa kalau hanya menampilkan dialog saja, penonton akan bubar! Kalau hal ini yang dipakai sebagai argumentasi, maka saya bisa balik bertanya, bagaimana halnya dengan dialog yang dibawakan oleh Ki Narto Sabdho almarhum saat membawakan cerita 'Kresna Duta' atau 'Kresna Gugah', yang bisa membuat seluruh penonton tercekam, duduk terpaku diam membisu tak bisa berkata-kata? Padahal dialog itu dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Atau, saat Ki Narto Sabdho menceritakan nasib para ksatria Pandhawa yang direndahkan, dilecehkan, dan dihina oleh para Bangsawan Hastina, dalam cerita 'Pandhawa Ngenger', yang membuat sebagian besar penonton menangis? Atau, saat Ki Narto Sabdho menceritakan penderitaan batin Prabu Boma Nara Sura, saat dilecehkan oleh permaisurinya (Dewi Hagnyanawati), yang ternyata cintanya bukan kepada dirinya, melainkan kepada adiknya (Raden Samba). Pada adegan ini, hampir semua penonton menangis dan tercekam, seakan-akan cerita itu bukan tentang Prabu Boma Nara Sura, tetapi tentang kehidupan kita, tentang diri kita. Atau, sewaktu Ki Narto Sabdho bercerita tentang gugurnya Resi Bisma yang sangat tragis, gugurnya Kumbakarna sang pahlawan yang membela negara (meskipun ia tahu kakaknya seorang raja yang sangat lalim dan jahat), gugurnya seorang Sukasrana yang terbunuh oleh kakaknya Raden Sumantri(Sukasrana adalah seorang adik yang cacat, buruk muka, dan selalu direndahkan dan dilecehkan, padahal ia merupakan kunci sukses seorang kakak, Raden Sumantri). Atau, saat Dewi Sinta pulang dari Alengka dan bertemu Pabru Rama, tetapi oleh Prabu Rama malah dicurigai telah berselingkuh dan berbagi cinta dengan Rahwana, selama ia diculik. Atau, saat Ki Narto Sabdho menceritakan bagaimana hancurnya harga diri dan kehormatan Dewi Drupadi sebagai seorang wanita, saat ia dilucuti pakaiannya (ditelanjangi), dijamah tubuhnya, direndahkan, dan dihina beramai-ramai oleh para Kurawa.

Bukankah semua adegan-adegan ini, penuh dengan dialog yang relatif memakan waktu lama? Mengapa penonton bisa duduk terpana, tercenung, terdiam, tercekam, menangis, atau sebaliknya bahkan marah? Apa yang sebenarnya terjadi? Menurut saya, para dhalang yang sukses membuat emosi dan perasaan penonton ikut hanyut terbawa bersama cerita yang dibawakan, telah membuktikan bahwa adegan, cerita, atau dialog; jika digarap secara sangat bagus, bisa tidak saja mempertahankan penonton tetap duduk menonton, tetapi juga membuat penonton larut dalam emosi dan perasaan. Menonton wayang, tidak hanya 'melihat' adegan semata dengan mata raga, tetapi juga membawa penonton memakai mata hatinya dan menggunakan imajinasinya, sehingga mereka seakan-akan menjadi tokoh yang diceritakan. Penonton menjadi terlibat di dalam cerita, menjadi bagian dari cerita, bahkan menjadi tokoh yang diceritakan. Penonton, bukan lagi 'orang yang duduk menonton pagelaran wayang', melainkan telah berubah menjadi tokoh di dalam cerita dan menjadi bagian dari cerita.

Saya sangat memahami, bagaimana perasaan sejumlah sahabat saya, yang menyatakan bahwa pagelaran wayang tidak boleh dicemari dengan berbagai hal yang merendahkan nilai-nilai adi luhung suatu pagelaran wayang. Tetapi saya juga memahami, jika penonton berada pada kondisi yang tidak siap untuk menonton suatu pagelaran wayang yang mengeksploitasi mata hati, dan mereka ternyata hanya menginginkan suatu pagelaran wayang yang mengeksploitasi mata raga (jasmaniah). Menurut saya, di sinilah letak dan peran seorang dhalang sebagai 'gurunya masyarakat'. Ia, berperan setahap demi setahap menaikkan level pemahaman masyarakat penontonnya, sehingga akhirnya mencapai suatu tingkat yang lebih tinggi, dan akhirnya bisa mencapai pada pemahaman 'menonton wayang dengan mata hati', yang bisa menghidupkan cerita, adegan, dialog dalam pagelaran wayang menjadi sebuah pagelaran imajiner di dalam benak penonton, bukan sekedar hura-hura dan melihat pagelaran wayang dengan mata
raga.....

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan sebagai berikut.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa semua pagelaran wayang yang bersifat kontemporer selalu mengeksploitasi 'mata raga', tetapi harus diakui memang ada kecenderungan yang sangat kuat, bahwa pagelaran wayang kontemporer sebagian besar memang mengarah kepada suatu pagelaran yang sangat mengeksploitasi mata raga (jasmaniah).

Saya tidak hendak mengatakan bahwa semua pagelaran wayang yang bersifat tradisional selalu mengeksploitasi 'mata hati' (rohani dan imajinasi), tetapi harus diakui bahwa sebagian besar pagelaran wayang tradisional yang dilakukan pada masa sekarang, memang cenderung mengarah kepada suatu pagelaran yang sangat mengeksploitasi mata raga (jasmaniah).

Tugas kita semua, adalah mengingatkan kepada semua sahabat-sahabat kita, bahwa kedua jenis pagelaran itu, kenyataannya memang ada dan nyata. Jadi, tidak perlu diperdebatkan atau diperselisihkan. Juga tidak perlu membuat kita menjadi sakit hati, kecewa, atau saling menghujat. Suatu pagelaran yang sangat mengekspolitasi mata raga semata, jika secara konsisten dijalankan, dipikirkan, dianalisis, dan dikembangkan; pada suatu waktu nanti dengan sendirinya pasti akan berubah menjadi semakin 'halus' dan akan semakin mengarah kepada pertunjukan yang mengeksploitasi mata hati.

Kalaupun kita merupakan pendukung kuat dan fanatik terhadap bentuk pagelaran yang mengeksploitasi mata hati, hal itu tidaklah cukup alasan untuk menjadikan kita lalu berhak menghujat dan menyalahkan pagelaran yang mengeksploitasi mata raga. Mengapa? Karena keduanya, sebenarnya merupakan saudara. Ingatlah masa kecil kita dulu. Kita selalu mulai dari mata raga lebih dahulu, yakni melihat dan menikmati secara jasmaniah. Kemudian, setelah kita semakin tahu, selanjutnya kita lalu mulai berusaha memahami dan merasakannya dengan mata hati.

Bukankah dulu sewaktu kita masih kecil, masih anak-anak, hanya mengenal Tuhan dari kata-kata (misalnya, dari orang tua kita) dan tulisan (misalnya, dari buku)? Apa yang terjadi setelah kita sekarang dewasa? Kita lalu mengenal Tuhan, karena merasakannya di dalam hati, karena kita memakai mata hati kita, dan bukan lagi hanya sekedar kata-kata atau tulisan yang sifatnya terlihat oleh mata raga kita....

Demikianlah sahabat-sahabat kinasih saya, semoga uraian saya bisa membuat kita semua lebih bijak menyikapi berbagai hal yang terjadi di sekitar kita. Salam hangat dan hormat saya untuk anda semua sahabat-sahabat kinasih saya. Maju terus pantang mundur, rawe-rawe rantas, malang-malang putung.....

Bram Palgunadi

_____________________________________________________________________________

Pagelaran wayang mengeksploitasi mata-raga atau mata-hati?

Oleh Bram Palgunadi, pada 04 Desember 2010 jam 22:07

Selama ratusan tahun, wayang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial-budaya masyarakat kita. Bahkan sebagian dari kita juga masih memandang wayang dan pagelarannya sebagai sesuatu yang sakral, penuh ritual, dan penuh tata-cara. Namun, pada masa sekarang, peran dan fungsi wayang dan pagelarannya, sudah banyak bergeser menjadi suatu ‘pagelaran hiburan’ semata. Banyak orang yang menyatakan bahwa wayang dan pagelarannya sudah nyaris punah atau sekurang-kurangnya menipis penikmat dan penontonnya. Tidak hanya orang awam yang menyatakannya, beberapa dhalang-pun menyatakan hal yang sama. Sejumlah pernyataan pesimistis, sering terdengar dinyatakan orang tentang wayang dan pagelarannya. “Di media televisi, pagelaran wayang tidak banyak peminat yang bersedia menjadi ‘sponsor’ atau pemasang iklan”. Ini merupakan kalimat ‘klise’ yang paling banyak terdengar dinyatakan oleh ‘orang-orang tv (televisi)’. Jadi jangan harap ada siaran televisi yang bersedia menampilkan pagelaran wayang semalam suntuk misalnya.

Jika kita berjalan-jalan di malam hari yang tenang di suatu kota kecil di wilayah pedalaman, maka telinga kita besar kemungkinan akan bisa mendengar sayup-sayup suara permainan gamelan (klenengan, kliningan, permainan sitar, cokekan,  ludruk,  kethoprak,  macapat,  tembang, jaipongan, wayang golek, wayang kulit purwa, atau wayang orang), yang berasal dari suatu pesawat penerima radio yang disetel seorang pedagang atau penjual makanan atau minuman di suatu warung atau lapak dagangan di pinggir jalan. Di sekitarnya, sekelompok orang duduk santai berkeliling, berselimut sarung, saling berbincang, sambil mendengar alunan suara permainan gamelan serta menikmati segelas kopi panas atau makanan kecil. Di kota besar, wilayah pinggiran umumnya juga bisa menampilkan fenomena seperti ini. Mereka itu, umumnya sangat menikmati siaran radio yang menyiarkan suatu kesenian daerah (kesenian tradisional). “Kalau ngeliat  tv, kita nggak bisa sambil kerja mas!” Atau, “Kalau ngeliat  tv, kita jadi berhenti kerja mas! Kerjaan jadi terganggu!”, begitu ujar mereka. Jadi, pada segmen dan kegiatan masyarakat tertentu, media seperti televisi dipandang tidak tepat untuk dipakai sebagai ‘teman’ saat bekerja atau berkegiatan tertentu.

Di lain pihak, coba kita lihat media elektronika seperti radio misalnya. Secara umum, stasiun-stasiun pemancar radio brodkas  bisa dibagi menjadi tiga golongan, yaitu yang bekerja di ban radio gelombang tengah (medium wave, MW),  yang bekerja pada ban radio gelombang pendek (short wave, SW), dan yang bekerja di ban radio frekuensi sangat tinggi (very high frequency, VHF). Namun, sebagian besar stasiun pemancar radio brodkas di Indonesia, kecuali RRI (Radio Republik Indonesia), lazimnya hanya bekerja di ban radio gelombang tengah (medium wave, MW) dan di ban radio frekuensi sangat tinggi(very high frequency, VHF). Stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja di ban radio gelombang tengah (medium wave, MW), lazimnya bekerja memakai emisi AM (amplitude modulation). Sedangkan stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja di ban radio frekuensi sangat tinggi (very high frequency, VHF),  lazimnya bekerja memakai emisi  FM (frequency modulation).

Jika kita perhatikan baik-baik, sejumlah stasiun pemancar radio brodkas, justru terbukti mengeksploitasi pagelaran wayang untuk mendongkrak pendengarnya. Kebanyakan, mereka merupakan stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja pada ban radio gelombang tengah (medium wave, MW) dan memakai emisi AM (amplitude modulation), yang umumnya mudah terganggu derau(noise). Stasiun-stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja di ban radio gelombang tengah ini, pada masa sekarang jumlahnya relatif sedikit. Meskipun demikian, sejumlah besar stasiun pemancar radio brodkas milik RRI (Radio Republik Indonesia) dan beberapa stasiun pemancar radio brodkas swasta, ternyata tetap beroperasi pada ban radio gelombang tengah. Salah satu penyebabnya, adalah jarak jangkau pancaran stasiun-stasiun pemancar radio brodkas yang beroperasi di ban radio gelombang tengah ini (pada ban radio frekuensi 0,5 – 1,6 MHz), bisa mencapai jarak ratusan sampai ribuan kilometer, terutama pada saat malam hari dan di musim penghujan. Mereka itu, bisa menjangkau masyarakat pendengar yang sangat jauh dan terpencil lokasinya. Karena jarak jangkau pancarannya yang relatif jauh itu, maka segmen pendengar stasiun pemancar radio brodkas yang beroperasi pada ban radio gelombang tengah ini, kebanyakan adalah masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman, jauh di luar kota.

Meskipun demikian, mereka yang tinggal di dalam kota tentu saja bisa mendengarkan pancaran siarannya. Sementara itu, sejumlah besar stasiun pemancar radio yang bekerja di wilayah perkotaan, terutama kota besar, cenderung beroperasi memakai emisi FM yang ‘bebas derau’ (noise free) dan menghasilkan mutu audio yang nyaris mendekati ‘high fidelity’ (hifi). Tetapi stasiun-stasiun pemancar radio  brodkas ini, karena bekerja pada ban radio sangat tinggi (very high frequency, VHF), yakni pada ban radio frekuensi 88 – 108 MHz, maka jarak jangkau pancarannya relatif tidak bisa jauh. Meskipun memakai daya pancar yang relatif tinggi (high power), namun jarak jangkau pancarannya hanya sekitar 30 – 50 kilometer. Itupun pada kondisi ‘line of sight’ (LOS) dan tanpa halangan yang berarti. Adanya gedung-gedung tinggi, bukit, atau gunung; jelas merupakan penghalang (obstacle) yang secara langsung akan memperpendek jarak jangkau pancarannya. Stasiun-stasiun pemancar radio brodkas yang beroperasi pada ban radio frekuensi sangat tinggi ini, cenderung hanya melayani para pendengar yang tinggal di dalam kota dan sekitarnya. Segmen pendengar mereka, juga sangat khas, yakni ‘orang kota’.

Dari bahasan singkat di atas, jelaslah bahwa masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman, tidak bisa dijangkau secara mudah oleh stasiun-stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja pada ban radio frekuensi sangat tinggi. Sebaliknya, meskipun mutu audionya seringkali terganggu oleh derau (noise),stasiun-stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja pada ban radio gelombang tengah, justru bisa menjangkau secara mudah pendengar-pendengar yang tinggal di wilayah pedalaman yang jauh dari kota. Penjelasan singkat yang sangat teknis ini, tetap tidak bisa dipakai untuk menjelaskan mengapa stasiun-stasiun radio brodkas yang bekerja pada ban radio gelombang tengah cenderung banyak mengeksploitasi berbagai kesenian tradisional, termasuk pagelaran wayang sebagai tumpuan utama programa siarannya, terutama di malam hari.

Bagaimanapun juga, bahasan tentang penyebab terjadinya perbedaan ‘pelayanan pemenuhan kesenangan’ masyarakat pendengar programa siaran radio, lebih didasarkan kepada adanya perbedaan sosial-budaya, karakter, adat tradisi, dan pranata kehidupan yang hidup di kalangan masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dan masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman (luar kota).

Secara umum, segmen pendengar pancaran programa siaran radio yang tinggal di kota-kota, sebagian besar bisa dikatakan bersifat ‘tidak terlampau tradisional’, kalau tidak boleh dikatakan ‘berkehidupan modern’. Mereka, merupakan masyarakat yang sehari-hari terbiasa terlibat dengan detak kehidupan kota yang serba cepat, penuh persaingan, serba berteknologi ‘maju’, dilingkupi dengan berbagai hal (benda, produk, situasi, kondisi, dan lingkungan) yang secara umum bisa dikatakan ‘modern’ (bahkan mungkin ‘sangat modern’), yang seringkali berubah peran menjadi pelengkap ‘gaya hidup’ (life style), dengan hubungan sosial antar sesama yang jauh lebih renggang, jauh lebih individualistis, dan seringkali juga bersifat sangat formalistis. Karena karakternya ini, maka hiburan dalam bentuk-bentuk yang merupakan penunjang kehidupan kota menjadi kebutuhan yang terasa penting. Meskipun demikian, masyarakat perkotaan seringkali juga berperilaku mendua. Di satu sisi, mereka penuh dengan kehidupan kota yang modern; tetapi di sisi lain, mereka seringkali juga merindukan kehidupan ‘tradisional’ (yang tidak bisa dialaminya lagi dan bukan merupakan dunia keseharian mereka). Karakter masyarakat perkotaan yang ‘tidak terlampau tradisional’ ini, secara umum memerlukan pemenuhan kebutuhan, termasuk kebutuhan akan hiburan, yang umumnya bisa dikatakan bersifat ‘khas kota’ (modern dan tidak tradisional).

Di lain pihak, segmen pendengar pancaran programa siaran radio yang tinggal di wilayah pedalaman, sebagian besar bisa dikatakan bersifat ‘lebih tradisional’, kalau tidak boleh dikatakan ‘berkehidupan kurang modern’. Mereka, merupakan masyarakat yang terbiasa dengan kehidupan yang detaknya tidak secepat kehidupan di kota (khususnya kota-kota besar). Mereka ini, dalam kesehariannya juga jauh lebih dekat dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Meskipun sebagian dari mereka menggunakan juga berbagai benda yang modern, tetapi benda-benda modern ini tidak berubah menjadi pelengkap ‘gaya hidup’ (life style), melainkan lebih sebagai pemenuhan kebutuhan semata. Mereka, juga terbiasa dengan tata kehidupan yang mempunyai hubungan sosial dan kekerabatan antar sesama yang relatif erat. Kehidupannya, juga tidak individualistis, dan seringkali juga berkarakater tidak terlampau formalistis. Dengan demikian, hubungan antar manusia menjadi jauh lebih erat. Karena karakternya ini, maka hiburan dalam bentuk-bentuk yang merupakan penunjang kehidupan tradisional menjadi kebutuhan yang terasa penting. Meskipun demikian, masyarakat tradisional yang tinggal di wilayah pedalaman, seringkali juga berperilaku mendua. Di satu sisi, mereka penuh dengan kehidupan tradisional; tetapi di sisi lain, mereka seringkali juga merindukan kehidupan ‘kota’ (yang bukan merupakan dunia keseharian mereka). Tetapi, kehidupan sehari-hari masyarakat ini, lebih didominasi oleh berbagai kegiatan yang bersifat jauh lebih tradisional. Karakter masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman yang ‘sangat tradisional’, secara umum memerlukan pemenuhan kebutuhan, termasuk kebutuhan akan hiburan, yang umumnya bisa dikatakan juga bersifat ‘tradisional’.

Dari kehidupan yang sangat tradisional inilah, kemudian muncul berbagai kebutuhan akan hiburan yang juga bersifat tradisional. Karenanya, berbagai bentuk kesenian tradisional lebih mudah tumbuh dan berkembang di wilayah pedalaman, dibandingkan dengan di wilayah perkotaan. Berbekal kondisi ini, maka programa siaran radio yang membawa serta ‘sentuhan tradisional’, mempunyai banyak pendengar justru di wilayah pedalaman. Kehidupan dan keseharian yang jauh lebih nyaman, tenang, tidak diburu waktu, ditambah dengan masih suburnya nilai-nilai kekerabatan yang erat; membuat berbagai kegiatan masyarakat yang berlangsung di wilayah pedalaman umumnya lekat dengan nuansa adat tradisi. Sebaliknya, di wilayah perkotaan, sebagian masyarakatnya ternyata juga merindukan kehidupan yang bernuansa tradisional (yang tidak bisa dinikmatinya). Hal ini, juga menjadi penyebab, mengapa sejumlah kegiatan yang berlangsung di wilayah perkotaan, seringkali juga dihubungkan dengan sesuatu yang bernuansa tradisional. Bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman, nuansa tradisional menjadi bagian dari keseharian mereka. Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan, nuansa tradisional menjadi mimpi yang selalu dirindukan.

Dari bahasan di atas, jelaslah bahwa berbagai bentuk dan rupa kesenian yang bernuansa tradisional, termasuk pagelaran wayang, seharusnya bisa digunakan untuk memenuhi mimpi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dan juga memenuhi kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman. Sekarang, pertanyaannya berkembang menjadi  ‘apakah pagelaran wayang bisa memenuhi kedua kebutuhan itu?’ Pertanyaan selanjutnya, ‘apakah pagelaran wayang hanya untuk masyarakat yang tinggal di pedalaman saja? Atau, ‘bisa dan mampukah pagelaran wayang memenuhi kebutuhan kedua golongan masyarakat itu?’ Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah ‘apakah pagelaran wayang bisa bertahan dari terpaan berbagai budaya asing dan bisa dikembangkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat?’ Ini merupakan sebagian kecil dari sejumlah besar pertanyaan yang bisa diajukan, serta memerlukan jawaban dan tindakan nyata.

Ringkasnya, jika kita bersepakat bahwa pagelaran wayang masih bisa dipertahankan dan bahkan dikembangkan perannya di dalam kehidupan masyarakat, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara yang seharusnya dilakukan? Dalam hal ini, dhalang sebagai tokoh utama pelaku pagelaran wayang, haruslah mempunyai ‘kreatifitas positif’ yang luar biasa untuk bisa memenangkan persaingan ini. Sekurang-kurangnya untuk suatu segmen, situasi, dan kondisi masyarakat yang tertentu. Dikatakan harus mempunyai ‘kreatifitas positif’, karena nyatanya cukup banyak juga dhalangyang menerapkan ‘kreatifitas negatif’ sebagai jalan pintas untuk memenangkan persaingan dengan banyak media lain. Seorang dhalang, sebagai seseorang yang memegang peran dan fungsi memberikan pengetahuan dan wawasan kepada masyarakatnya, seharusnya selalu berusaha menaikkan tingkat pemahaman pengetahuan masyarakatnya. Ini merupakan suatu hal yang memang tidak mudah dilaksanakan. Pertama-tama, ia harus bisa menarik perhatian masyarakat.

Selanjutnya, ia harus memikat masyarakat penikmatnya. Lalu, ia harus bisa mempertahankan dan bahkan jika mungkin, memperluas jumlah masyarakat penikmatnya. Dalam upaya melaksanakan upaya pertama inilah terbukti cukup banyak dhalang yang menerapkan ‘kreatifitas negatif’. Upaya kreatifitas negatif ini, seringkali dilakukan dalam bentuk menampilkan sesuatu pagelaran yang merendahkan (dan akhirnya juga melecehkan) kemampuan masyarakat penikmatnya untuk bisa menggunakan kemampuan imajinasinya. Pagelaran wayang, tidak lagi mengeksploitasi imajinasi penontonnya, tetapi menjadi pertunjukan fisik, yang tidak memerlukan kemampuan berimajinasi lagi. Untuk keperluan ini, pagelaran wayang lalu dibantu dengan berbagai peralatan pendukung mutakhir (lampu disko, synthesizer, organ). Hanya untuk menggambarkan panah sang Arjuna yang bisa berubah menjadi ribuan panah yang menakutkan musuh, digunakanlah ‘sound effect’ berupa suara desingan tajam memekakkan telinga, yang dibangkitkan oleh perangkat synthesizer. Ini masih dibantu dengan efek lampu disko, yang memberikan pencahayaan berkedip-kedip gemerlap dan kilat lampu ‘strobolight’ yang menyilaukan mata.Pertunjukan wayang yang semula mengeksploitasi kemampuan berimajinasi penontonnya, lalu berubah menjadi pertunjukan fisik yang hanya memukau mata penontonnya.


Pagelaran wayang, berubah menjadi hanya memukau ‘mata-raga’ dan tidak lagi memukau ‘mata-hati’!

Pada suatu kesempatan (beberapa tahun yang lampau), saya pernah berdiskusi tentang hal ini dengan seorang dhalang terkenal dari Yogyakarta. Saya tanya, mengapa beliau menerapkan ‘kreatifitas negatif’. Beliau menjawab:  “Saya harus mempertahankan penonton, supaya tidak pergi meninggalkan pagelaran wayang saya”. Lalu, saya katakan kepada beliau: “Bapak ‘kan seorang dhalangDhalang,adalah tokoh sentral dalam pagelaran wayang. Bapak merupakan satu-satunya orang dalam pagelaran wayang yang paling berkuasa. Karenanya, tidak selayaknya Bapak merendahkan diri, martabat, dan kehormatan seorang dhalang dengan membawa serta orang kedua, pelawak, penari, atau bahkan penyanyi dangdut dalam suatu pagelaran wayang. Mereka itu, mempunyai dunia sendiri yang berbeda bentuknya”.  Lalu saya lanjutkan,“Dhalang, adalah gurunya masyarakat. Kalau Bapak melakukan hal seperti ini sepuluh sampai dua puluh kali, sekedar untuk mempertahankan penonton supaya tidak meninggalkan pagelaran wayang, maka saya tidak keberatan. Tetapi jika hal seperti ini dilakukan sepanjang hidup, maka menurut saya, Bapak sebaiknya jangan jadi dhalang!” Beliau terperangah mendengar penuturan saya. Lalu beliau bertanya: “Memangnya saya harus bagaimana?” Saya jawab: “Bapak seharusnya berperan sebagai gurunya masyarakat, seperti layaknya seorang dhalang, yaitu‘ngudal piwulang’ (menebarkan ajaran). Dengan demikian, Bapak seharusnya sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, berusaha menaikkan dan membimbing pemahaman, pengetahuan, dan wawasan masyarakat penonton pagelaran Bapak. Untuk itulah Bapak harus sangat kreatif, tetapi ke arah yang lebih positif. Hal itu memang sesuatu yang gampang dibicarakan, tetapi sangat sulit dijalankan. Bapak, adalah seorang dhalang, yang sejak awal, belajar dan dibekali berbagai ‘kawruh’(pengetahuan) pedhalangan, dibekali ‘kasantosan’ (keteguhan dan ketegaran), termasuk kreatifitas yang positif dalam olah swara (pengolahan suara), nembang (menyanyi), menguasai  gendhing (lagu), sabetan (menggerakkan wayang),  janturan (narasi, cerita), antawacana (dialog), mampu melakukanbanyolan (lawakan), menguasai drama, dan mampu mengembangkan alur cerita........”

Tak terasa, saya nerocos terus, seakan seperti menggurui beliau, yang umurnya jauh lebih tua. Di akhir pembicaraan, kepada beliau saya meminta maaf atas ‘kelancangan’ saya. Tetapi melihat dhalang-dhalang menerapkan ‘kreatifitas negatif’ seperti itu, saya menjadi sangat sedih. Dan, saya tidak tahan untuk tidak mengatakannya. Terus terang, saya sangat rindu, ingin sekali melihat pagelaran wayang yang justru dipandang sangat tradisional, dan tidak ‘dikotori’ dengan penampakan tokoh-tokoh lain selain dhalang. Seorang sahabat saya, suatu ketika berkata dengan nada yang jelas sangat jengkel: “Nonton wayang di jaman sekarang, nggak bisa dinikmati! Mainnya sih bagus, tapi gamelannya terlampau berisik! Saya tidak ingin hanya nonton pagelaran wayangnya saja, tapi juga kepingin mendengar dan bisa menikmati klenengan wayangan yang nyamleng, yang bisa membuat hati saya marem (puas).”

Seperti sahabat saya itu, saya juga ingin menikmati pagelaran wayang seperti layaknya sebuah pagelaran wayang yang bagus dan memikat, yang bisa membuat kita berkhayal, berimajinasi, bermimpi, menangis, merenung, bersedih, dan bisa merasakan tokoh-tokoh wayang yang dimainkan seakan-akan diri kita. Saya juga berharap, dari apa yang diucapkan dhalang  selama membawakan ceritanya, mudah-mudahan saya bisa memetik berbagai hal yang bisa membuat diri saya menjadi manusia yang lebih baik, lebih memahami berbagai hal, lebih banyak pengetahuannya, dan juga bisa lebih mengenal bahasa yang dipakai di pedhalangan. Wejangan dhalang seharusnya bisa menyadarkan saya pada etika, moral, pranata dan kehidupan yang lebih baik. Dan, tentu saja saya sebagai anggauta masyarakat, ingin lebih mengenal budaya dan kesenian tradisional kita yang adi luhung.

Pagelaran wayang, seharusnya tampil sebagai suatu peristiwa imajiner yang terjadi di dalam benak kita, di mata-hati kita; dan bukan sekedar pertunjukan ragawi, yang tampil hanya di mata-raga kita.


__________________________________________________________________________


Tak ada lagi yang Mau Menyanggul Rambutnya? 
Tak ada lagi yang mengenakan ikat kepala ? 


S. Ken Atik Djatmiko 
19 November, Jumat Legi, 2010

Pada budaya tertentu kepala menjadi satu bagian penting dari tubuh manusia yang dianggap ‘paling tinggi derajatnya’, sehingga jika seseorang menyentuh atau bahkan memukul kepala seseorang akan terjadi suatu malapetaka besar. Kepala bagi banyak orang menjadi bagian tubuh yang banyak didandani guna sebuah penampilan. Kepala dan rambut dapat didandani dengan berbagai gaya sebagai salah satu upaya manusia dan dorongan hati untuk tampil cantik, berwibawa dan dihargai. Menghias kepala dilakukan untuk identitas dan kehormantan.Jadi, kegiatan menghias kepala tidak dilakukan dengan semena-mena. Peneraan benda-benda hias pada kepala menjadi hal penting dalam seni menghias kepala. Hiasan yang digunakan pada kepala menjadi simbol dan status, apalagi jika perhiasan yang dipakai adalah emas. Disematkan di kepala, ditempelkan, dijepitkan, ditusukkan, ditutupkan, dililitkan, diikatkan, dan berbagai cara lainnya sebagai ekspresi dan kemampuan artistik berbagai kalangan dan status dalam menghias kepala.


Kepalaku... Tempat "Mahkota" Bertengger

Perhiasan dikenal oleh setiap bangsa di dunia. Perhiasan digunakan dengan tujuan yang beragam, antara lain untuk kelengkapan upacara keagamaan dan adat, sebagai simbol status di dalam masyarakat, dipercaya menjadi kekuatan magis (jimat), dan tentu saja untuk kecantikan dan kewibawaan. Memberi hiasan pada rambut dan bagian tubuh lain merupakan salah satu naluri alamiah yang pada perkembangannya kemudian menjadi kebutuhan utama agar penampilan menjadi lebih cantik dan berwibawa.

Sejak jaman pra sejarah bangsa-bangsa di Asia Tenggara, khususnya Indonesia sudah mengenal perhiasan dengan berbagai jenis bahan dan bentuk perhiasan. Pada awalnya perhiasan yang dibuat masih sangat sederhana seperti kalung yang terbuat dari kulit kerang dan tulang hewan. Ketika masa neolitik atau masa bercocok tanam, kepandaian membuat perhiasan makin meningkat. Adanya pengaruh budaya luar berpengaruh pula terhadap penggunaan bahan dan teknik pembuatan peralatan termasuk membuat perhiasan. Pada perkembangannya perhiasan dibuat dengan bahan yang lebih beragam semisal dengan menggunakan tanah liat bakar, batu-batu-an, perunggu hingga emas. Pada masa perundagian pembuatan perhiasan maju pesat. Teknologi mencampur logam seperti mencampur tembaga (Cu) dengan timah (Sn) yang menghasilkan perunggu sudah dikenal sehingga perhiasan dapat dibuat dengan berbagai bentuk dan fungsi, antara lain ; perhiasan kepala, perhiasan telinga, perhiasan untuk pinggang, perhiasan untuk pergelangan tangan dan jari tangan, pergelangan kaki serta berbagai bentuk dan fungsi perhiasan lainnya. Keinginan untuk berdandan dan bergaya guna menarik lawan jenis adalah suatu hal yang dapat membantu perkembangan dibidang mode. Oleh karena itu seni berhias turut maju sesuai dengan perkembangan dalam mode.

Indonesia dengan kekayaan budaya dan beragam suku bangsa memiliki beragam bentuk perhiasan dan ikat kepala dengan makna dan fungsi yang disesuaikan dengan kegiatan serta kebutuhannya. Daya tarik dari sebuah penampilan diantaranya terlihat dari gaya, bentuk, dan cara dalam menerakan dan menghias kepala dan rambut. Dandanan gelung rambut di nusantara sangat beragam dengan cara-cara menata dan menghias yang unik, elok, dan dekoratif. Dandanan dan apa yang dikenakan di kepala dan rambut dapat menjadi ciri khas dari daerah mana gaya tertentu berasal. Selain itu dandanan kepala dan rambut juga dapat dibedakan dari kedudukan atau status seseorang dalam lingkungan budayanya, selain busana yang dikenakan.

Bunga menjadi salah satu hiasan paling banyak digunakan dengan cara disematkan sebagai hiasan rambut di hampir seluruh daerah nusantara, diantaranya sanggul Mandar, Bugis, Aceh, Bali, daerah-daerah lainnya. (Dokumentasi dan ilustrasi oleh Ken)


Gelung, Sanggul...Riwayatmu Dulu.....

Gelung dan sanggul perempuan nusantara memiliki beragam model, bentuk dan beragam guna untuk acara tertentu. Dandanan rambut dan hiasan kepala dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan, usia, jenis kelamin, dan status. Dandanan rambut untuk pengantin, untuk penari, untuk acara resmi, dengan beragam modifikasi adalah beberapa contoh. Untuk kaum pria nusantara pada umumnya, pemberian hiasan di kepala lebih banyak menggunakan ikat kepala atau udeng, yang pada beberapa daerah cara dan arah ikatan udeng menunjukkan kedudukan atau status dan makna tertentu.


__________________________________________________________________________

KEPARAT

Oleh: Ken Atik Djatmiko
pada 22 November 2010 jam 10:42


Melulu LUKA
Mendekap NESTAPA
Seharian MENGUDAK asa
Terengkuh dalam BINAL nasib
Tak berubah meski jejeran amuk MENDEDAHMU
Dia HANYA termangu, tersenyum
Pura-pura MATI rasa
Pada NASIB yang mendera


(Ken, Purwakarta, Juli 2010)

__________________________________________________________________________

Soaring through your hearts,  
Karenanya kau akan mewujud menjadi jantan

Ken Atik Djatmiko
22 November 2010 jam 10:29


Menjelajahi hati untuk menemukan harta karun cinta,
Teratih-tatih, karena tak semua mampu menemukannya
Meniti setiap detik untuk memahami cinta, hingga batas usia renta, mati.
Duh...betapa..
Dibalik gemuruh hasrat cinta yang indah, cinta datang dengan sedikit luka, benci, cemburu dan rindu

Hhhhhh.....dimana.....
Dimanakah dia?,
Air mengalir menemui muaranya beradu dalam periuk muara keperak-perakan ditimpa sinar surya.
Angin bertiup disetiap relung yang berwarna lembayung
Dan mengusap tiap helaian rambut, adakah dia temukan belahan jiwanya?
Tanah, bumi yang kita pijak tak pernah beranjak, tapi mau menangkap jejak kehidupan

Sang hyang tak pernah meminta,
Namun begitu hebat menggetarkan dan menyelimuti dengan hamparan kehangatan,
Berdegup berirama
Teriakkan kata cinta, kalahkan gemuruh ombak,
Supaya gemanya disampaikan burung camar ke seberang lautan
Karenanya, kau akan mewujud menjadi jantan


Ken, 8 agustus 2010

SAAT PERTAMA KALI NONTON KI NARTO SABDHO


Peristiwa ini, terjadi pada tahun 1966, di kota Sala-Tiga, sekitar awal bulan Juli. Hari tepatnya saya sudah lupa, tetapi yang saya ingat adalah dalam rangka merayakan ulang tahun POLRI, dan dilakukan di halaman kantor markas kepolisian Kota Sala-Tiga. Saat itu saya masih anak-anak. Baru duduk di kelas dua, SMP. Jalan raya di dekat markas kepolisian itu, merupakan salah satu jalan raya yang secara rutin saya lewati jika saya hendak pergi ke sekolah, atau pulang dari sekolah. Saya sekolah di SMP Negeri 1, Sala-Tiga, yang lokasinya di Jl. Kartini. Sedangkan tempat tinggal saya, di Jl. Karang Gendhong, atau bagi penduduk Kota Sala-Tiga, lebih sering disebut Jl. Solo. Kalau dari arah kota ke arah selatan, pas di tanjakan pertama, di depan komplex perumahan tentara, yang oleh penduduk entah karena apa, sering disebut 'Tangsi Bambu'. Saya dan orang-tua saya, tinggal di komplex perumahan pegawai PN Perhutani.

Siang itu, sekitar jam setengah satu, saya seperti biasa pulang sekolah melewati jalan raya di samping markas kepolisian. Di sebelah markas polisi itu, ada lapang sepak bola. Saat melewati jalan raya yang saat itu sepi, tak terlalu banyak kendaraan yang lewat, saya melihat di halaman depan kantor markas polisi itu sudah didirikan 'tarub', yaitu bangunan sementara, yang atapnya dari kain terpal tebal. Bangunan tarub itu berukuran besar sekali. Di depan 'tarub', dari kejauhan terlihat ada truk-truk besar yang parkir. Sejumlah orang terlihat sedang membongkar muatan truk-truk itu. Entah kenapa, saya tertarik untuk melihat. Karena itu, saya lalu berjalan ke arah halaman kantor markas kepolisian itu dan tidak jadi pulang. Ternyata truk-truk besar itu memuat gamelan dan kotak wayang. Beberapa orang terlihat sedang menurunkan gamelan yang kelihatan berat, dari atas bak truk. Belakangan saya baru tahu, bahwa semua gamelan, kelir wayang, dan wayang kulit yang akan digunakan untuk pagelaran wayang nanti malam, adalah milik Pak Narto Sabdho.

Di bangunan 'tarub' itu, terlihat sebuah 'kelir' (layar wayang kulit) berukuran besar dan panjang sudah dipasang, lengkap dengan 'gedebog'-nya (batang pohon pisang), yang nantinya akan digunakan untuk menancapkan wayang. Tetapi wayang kulit-nya belum ada yang di-'simping'. Saya, dari kejauhan melihat, panggung gamelan sudah selesai dibuat dan sudah selesai pula diberi lapisan kain terpal. Tinggal memasang tikar, sebagai alas duduk para 'nayaga'. Masih beberapa saat, saya memperhatikan berbagai kegiatan mempersiapkan pagelaran wayang itu. Dari orang yang sedang bekerja di tarub itu, saya mendapat keterangan, bahwa dhalang yang nanti malam mau 'manggung' adalah Ki Narto Sabdho dari Semarang, yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai dhalang kondang. Saat mendengar informasi itu, saya jadi tercengang. Jadi...., yang nanti malam main, adalah Pak Narto Sabdho....? Waaaa.... saya belum pernah menyaksikan pagelarannya. Selama ini, saya hanya mendengar cerita dari beberapa orang, yang menyampaikan bahwa beliau merupakan dhalang yang bagus. Selain itu, saya juga hanya mendengar pagelarannya lewat pesawat penerima radio gelombang pendek, khususnya lewat siaran RRI Semarang, di gelombang radio 75 meter. Meskipun pada saat itu sudah ada TVRI, tapi pada waktu itu tidak pernah ada programa siaran televisi yang menampilkan pagelaran Pak Narto Sabdho...

Beberapa saat, saya masih berkeliling dan berkeliaran di sekitar tempat persiapan pagelaran itu, sambil menenteng tas sekolah. Saat itu, saya satu-satunya 'anak kecil' di situ. Beberapa orang anggauta polisi memperhatikan para pekerja yang sedang mempersiapkan penataan gamelan. Semuanya masih berantakan. Sejumlah besar tikar berukuran besar, sudah mulai digelar di atas hamparan terpal. Hari masih siang. Udara saat itu panas sekali, khas terik di bulan Juli. Matahari terasa menyengat. Di bawah naungan atap tarub besar itu, udara terasa tak terasa panas. Angin yang bertiup siang itu, membuat suasana menjadi lebih nyaman. Di luar halaman kantor markas kepolisian itu, terlihat para pedagang kaki lima mempersiapkan tenda-tenda kecil, untuk berdagang nanti malam. Semakin lama, suasananya semakin ramai saja. Dalam waktu dua jam, banyak sekali pedagang kaki lima yang mempersiapkan dagangannya di luar halaman kantor markas kepolisian itu. Saya masih berlama-lama di sana, dan merasa enggan untuk pulang. Jam besar yang terlihat dipasang di atas dinding kantor markas kepolisian, menunjuk pukul setengah tiga siang.  Pagelaran kan masih lama. Masih nanti malam. Jadi, akhirnya saya memutuskan pulang ke rumah. Saya berjalan melintasi Jalan Kotamadya, yang siang itu terasa sepi dan panas. Kota Sala-Tiga sebenarnya berada di wilayah pegunungan, pada ketinggian rata-rata sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Jadi, udara malam di kota ini relatif dingin. Malam nanti, pasti udaranya terasa dingin sekali, apalagi ini musim kemarau. Bulan Juli, tepat pada puncak kemarau, yang jelas pada malam hari nanti, pasti dingin sekali. Begitu pikir saya sambil berjalan pulang. Tak terasa saya sudah sampai di pertigaan Jalan Solo. Tinggal berjalan ke arah selatan, menyusuri Jalan Solo, lalu menanjak sejauh tiga-ratus meter, dan sampailah ke rumah.

Di rumah, segera setelah saya mengganti pakaian seragam sekolah, Ibu saya bertanya: "Engkau kelihatan tak biasa. Biasanya, engkau membiarkan diri memakai pakaian seragam sekolah selama berjam-jam setelah pulang sekolah. Sekarang, kenapa tiba-tiba engkau seperti sedang bersiap-siap mau pergi. Ada apa...?" Saya lalu menceritakan, tentang adanya pagelaran wayang nanti malam di halaman kantor markas kepolisian Salatiga. Ibu saya, sambil tersenyum berkata: "Jadi...., engkau nanti malam mau nonton....?" Saya menjawab dengan menganggukkan kepala. "Baiklah. Kalau begitu, sekarang engkau makan dulu saja yang banyak. Lalu, siapkan pakaianmu sekarang. Siapkan juga sarung batik kesukaanmu. Jangan lupa, siapkan juga ikat kepala dan syaal ya.... Nanti malam, pasti dingin sekali. Ini bulan Juli lo. Puncak kemarau. Jadi pasti dingin sekali. Coba periksa, apakah baju tebalmu sudah kering dan sudah diseterika atau belum. Nanti malam, engkau pakai celana panjang saja ya, supaya kakimu tidak kedinginan...." Siang itu, ibu saya jadi ikut sibuk. Ikut mempersiapkan segala macam keperluan yang nanti malam saya perlukan untuk acara nonton wayang kulit purwa. Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat.....

Matahari telah menuju peraduannya. Selewat magrib, sisa-sisa berkas cahaya matahari menghasilkan tebaran warna merah di angkasa. Terlihat berkas semburat merah tua semu jingga. Angkasa tampak bagai terbakar di musim kemarau itu. Sisa-sisa panasnya, sudah lenyap. Udara sudah mulai menebarkan rasa dingin. Malam Minggu ini, saya berjalan cepat-cepat menuju tempat pagelaran. Serasa tak sabar dan ingin cepat sampai saja. Bercelana panjang tebal dengan kaos tebal dirangkap baju tebal. Saya masih melengkapi diri dengan berkalung sarung batik. Di leher, dililitkan sebuah syaal tebal pemberian ibu saya. Lalu, kepala saya tertutup ikat kepala, juga bermotif batik. Sebenarnya, kelengkapan pakaian itu, juga selalu saya pakai, jika saya berangkat berlatih menabuh gamelan ke tempat guru karawitan saya, ke desa Karang-Pete. Bedanya, kalau pergi ke tempat latihan karawitan, di desa Karang-Pete, saya melewati tempat-tempat yang gelap gulita dan melewati kuburan. Sedangkan kalau menuju tempat pagelaran wayang kulit ini, saya melewati pusat kota Sala-Tiga, yang pada saat malam hari terasa relatif ramai oleh lalu-lalang orang berjalan kaki, kendaraan, juga kendaraan tradisional 'dokar' yang ditarik kuda. Selain itu, suasana sepanjang perjalanan juga terang-benderang oleh cahaya lampu listrik. Tak berapa lama, saya sudah melewati Toko Tegal, sebuah toko yang menjual berbagai jenis roti. Lalu, melewati Gedung Makuta-Rama, sebuah gedung pertemuan besar milik militer di Kota Sala-Tiga, yang biasanya disewa oleh masyarakat, untuk melakukan pesta-pesta pernikahan. Sampai di situ, saya sudah mencapai setengah jarak jalan, untuk sampai ke tempat pagelaran. Saya memakai sebuah sandal kulit yang agak tebal. Meskipun saat itu musim kemarau, tapi karena saya tak memakai kaos kaki, maka saya merasa dingin juga. Berjalan ke arah utara selama beberapa waktu, lalu belok kiri masuk ke Jalan Kotamadya. Itu jalan menuju ke tempat pagelaran....

Di ujung Jalan Kotamadya, saat saya melihat ke arah kantor markas kepolisian, terlihat pemandangan yang terlihat benar-benar mencengangkan. Beberapa saat, saya terpesona oleh pemandangan yang tampak. Bangunan tarub besar itu, tampak bersinar terang dengan hiasan cahaya lampu warna-warni. Dari kejauhan, tampak cemerlang mempesona. Tampak beberapa umbul-umbul dari batang bambu panjang yang melengkung ujungnya. Pada batang bambu itu, diikatkan potongan kain warna-warni. Juga ada umbul-umbul yang dihias dengan daun janur. Pada ujung bambu yang melengkung, digantungkan sejumlah hiasan janur berbentuk bunga besar. Saat terkena angin, hiasan bunga dari janur yang berukuran cukup besar itu, bergoyang-goyang. Sejumlah umbul-umbul itu membuat suasana di sekitar tempat pagelaran menjadi sangat semarak. Pemandangannya tampak sangat berbeda dengan saat saya melihatnya tadi siang. Sepasang umbul-umbul besar berhias daun janur, diletakkan saling berhadapan, tepat di pintu masuk ke arah tarub besar. Seakan, keduanya membentuk gerbang besar selamat datang. Di seluruh bangunan tarub, dari ujung ke ujung lainnya, dari sudut yang satu ke sudut lainnya, digantungkan hiasan untiran kertas berwarna merah dan putih. Saat terkena tiupan angin, untiran pita kertas berwarna merah dan putih ini seperti bergerak-gerak dan berlari ke sana ke mari.

Panggung gamelan yang digunakan, sama sekali tidak tinggi. Hanya sekitar 20 cm kira-kira. Dibuat dari papan kayu. Diatasnya tadi siang sudah ditutup memakai kain terpal tebal. Lalu, di atasnya dihamparkan lembar-lembar tikar tebal dan luas. Di atas hamparan tikar itu diletakkan ricikan gamelan. Di bagian paling depan, tepat di depan 'kelir wayang' (layar wayang), ada panggung tambahan yang diletakkan di atas panggung gamelan. Juga setinggi kira-kira 20 cm. Di belakang dan di depan panggung gamelan itu, digelar terpal tebal luas sekali. Di atas hamparan terpal tebal itu, diletakkan hamparan tikar-tikar tebal, yang rupanya dipasang sedemikian rupa, sehingga membentuk pola kotak-kotak teratur. Setiap hamparan tikar besar itu, berfungsi sebagai tempat duduk bagi para penonton. Pada hamparan tikar yang paling depan, yakni yang paling dekat dengan panggung gamelan dan kelir wayang; diletakkan deretan meja -meja pendek. Bentuknya empat persegi panjang, ukurannya sekitar 40 x 120 cm. Meja-meja ini, tingginya hanya sekitar 30 cm. Bagian atas meja-meja ini, ditutup dengan taplak bermotif batik. Taplak meja ini diletakkan pada posisi diagonal, sehingga ujung-ujung taplak yang berbentuk kotak itu menjurai ke bawah. Pada setiap meja, di bagian tengahnya, diletakkan 'seperangkat' kelengkapan merokok yang terdiri dari satu atau dua buah asbak, beberapa buah kotak korek api batang kayu, dan sejumlah gelas minum, yang masing-masing penuh berisi campuran berbagai jenis rokok. Ada rokok sigaret keretek, rokok putih, rokok kretek yang memakai daun jagung sebagai pembungkus tembakaunya, dan tentu saja tak ketinggalan rokok 'klembak menyan' yang ukuran batangnya super besar; yang lebih terkenal dengan sebutan 'rokok siong'. Begitulah penyanjian rokok pada pagelaran wayang di pedalaman. Sejumlah lampu pijar berdaya cukup besar (mungkin berdaya sekitar 75 watt atau 100 watt) digantungkan di seluruh bagian bangunan tarub besar itu. Jadilah seluruh bagian ruang dalam bangunan tarub itu terang benderang.

'Kelir wayang' yang berukuran extra panjang itu, pada bagian sisi kiri dan kanannya, sudah berisi pajangan 'simpingan wayang'. Dua gunungan, sudah dipancangkan berhimpitan, tepat di tengah-tengah 'kelir'. Bentangan simpingan wayang di sisi kiri dan kanan 'kelir wayang', tampak memanjang anggun sepanjang kira-kira tiga meter pada setiap sisinya. Pada ujung-ujung terjauhnya, ditancapkan wayang yang berukuran paling besar. Dua buah wayang 'tiwikrama' yang ukuran tingginya masing-masing sekitar semeter (mungkin lebih), dipasang tepat di kedua ujung simpingan wayang; seakan mengakhiri pandangan mata kita. Dari kejauhan, simpingan wayang itu terlihat sangat anggun. Kotak wayang, lengkap dengan 'keprak'-nya sudah berada di tempatnya. Di sebelah kanan kotak wayang itu, terlihat ada sebuah alas duduk berbentuk seperti bantal kecil berukuran sekitar 60 x 60 cm, dengan ketebalan sekitar 6 - 8 cm. Urung bantal kecil ini berwarna merah. Sama dengan warna gamelan yang digunakan. Di sisi kanan alas duduk dhalang, diletakkan sejumlah tumpukan 'eblek' tempat wayang, yang dibuat dari bambu dengan kain berwarna merah sebagai penutupnya. Tepat di atas tenpat duduk 'dhalang', dipasang lampu berdaya besar, lengkap dengan perisai penutup dari lembar logam. Pada masa lampau, digunakan 'blencong', yaitu lampu obor minyak berukuran besar, yang menghasilkan nyala terang. Tapi, rupanya masa itu sudah berlalu. Jadi, 'blencong' lalu diganti menggunakan lampu listrik berdaya besar. Kalau melihat ukuran lampu pijarnya dan cahaya yang diihasilkan, mungkin lampu itu berdaya sekitar 200 - 300 watt. Lampu dhalang itu sudah dinyalakan. Begitu juga semua lampu penerangan di dalam bangunan tarub itu.

Jika kita melihat ke arah panggung gamelan, maka segera terlihat pada ujung sisi paling kiri panggung diletakkan ricikan kempul dan gong. Ricikan ini, amat sangat mencengangkan saya, karena selama ini saya belum pernah melihat ricikan kempul, gong suwukan, dan gong ageng; yang dipasang menggunakan empat buah 'gayor' berukuran besar. Padahal pada masa itu, saya termasuk sering ikut nabuh gamelan, mengiringi pagelaran wayang kulit purwa, wayang wong, atau pagelaran 'klenengan'. Pada keempat buah gayor gong itu, dua buah gayor digunakan untuk menggantungkan seluruh ricikan kempul, gong suwukan, dan going ageng laras slendro. Lalu, dua buah gayor lainnya, digunakan untuk menggantungkan seluruh ricikan kempul, gong suwukan, dan going ageng laras pelog. Saat melihat susunan ricikan kempul, gong suwukan dan gong ageng itu, saya benar-benar terpesona. Itu belum mendengar bunyinya. Baru melihat bentuk fisiknya saja sudah mempesona dan membuat tercengang. [1] Deretan ricikan gamelan ageng, dipasang berderet rapi dari sisi kiri panggung sampai pada sisi kanan panggung. Di sisi depan ujung kiri kelir wayang, diletakkan pasangan ricikan kenong, yang ukuran fisiknya besar. Sebagai lawannya, di ujung paling kanan kelir wayang, diletakkan tiga buah ricikan gambang kayu; masing-masing berlaras slendro (menghadap ke depan), lalu gambang kayu laras pelog barang (menghadap ke arah kiri, ke arah dhalang), dan gambang kayu laras pelog bem (menghadap ke arah kanan, membelakangi posisi dhalang). Tepat di belakang tempat duduk dhalang, ditempatkan ricikian gender pambarung (gender barung) laras slendro. Di sebelah kanan dan kirinya, dalam susunan seperti huruf U, diletakkan ricikan gender pambarung laras pelog bem dan pelog barang. Di sebelah kiri ricikan gender pambarung, diletakkan pasangan gender panembung atau 'slenthem'. Gender panembung yang berlaras slendro menghadap ke arah depan. Sedangkan gender panembung yang berlaras pelog menghadap ke arah kanan. Di sebelah kiri ricikan gender panembung, diletakkan dua pasang ricikan demung atau saron panembung berukuran besar. Posisi peletakkannya, sama dengan ricikan gender panembung. Di sebelah kanan ricikan gender pambarung, diletakkan pasangan ricikan gender penerus. Posisi peletakannya sama dengan ricikan gender barung. Pada ujung belakang sisi kanan, dipasang dua pasang ricikan bonang; masing-masing sepasang ricikan bonang pambarung berlaras slendro dan pelog, serta sepasang ricikan bonang penerus berlaras slendro dan pelog. Pada posisi agak jauh di belakang, diletakkan sejumlah ricikan saron panembung (demung), ricikian saron pambarung, ricikan saron racik wayangan, dan ricikan saron penerus (peking). Di sebelah kanan ricikan gender penerus, diletakkan ricikan rebab, lalu diikuti dengan ricikan siter.

Tepat di tengah-tengah, di belakang tempat kedudukan ricikan gender pambarung, diletakkan sejumlah kendhang. Ada sekitar sambil sampai sepuluh buah ricikan kendhang berbagai ukuran. Saat melihat jumlah kendhang yang sebegitu banyak, saya tercengang. Biasanya, jika saya ikut mengiringi pagelaran wayang kulit purwa, jumlah kendhang yang digunakan hanya sedikit. Paling banter hanya menggunakan kendhang sabet wayangan, kendhang kosek wayangan, kendhang bem (kendhang ageng), kendhang ciblon (kendhang batangan), dan kendhang kecil (kendhang ketipung). Kendhang kosek wayangan dan kendhang sabet wayangan, biasanya malah menggunakan salah satu saja. Kendhang ini, menghasilkan suara tepakan berat dan keras. Biasanya, kendhang sabet wayangan digunakan untuk adegan perang pada waktu Pathet Nem dan Pathet Manyura. Kendhang sabet wayangan, seringkali juga difungsikan sebagai kendhang kosek wayangan (dengan mengatur kembali suara yang dihasilkan). Meskipun sebenarnya tidak tepat benar, tetapi karena tempat pagelaran biasanya tidak terlampau luas, maka untuk memainkan pola kosek wayangan, biasanya digunakan kendhang sabet wayangan yang diatur kembali tingkat kekencangan lembar membrannya sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suara yang tepat untuk permainan berpola kosek wayangan. Jadi katakanlah, untuk permainan berpola kosek wayangan dan sabetan, hanya menggunakan sebuah ricikan kendhang. Kendhang ini, biasanya diletakkan menghadap ke arah depan (ke arah kelir wayang), karena paling sering digunakan. Di sebelah kanannya, diletakkan kendhang ciblon atau kendhang batangan. Kendhang jenis ini biasanya untuk mengiringi adegan perang kembang pada Pathet Sanga, atau untuk mengiringi inggahan gendhing saat pola permainannya menggunakan pola ciblon atau rangkep. Nah, pada sisi kiri, diletakkan kendhang ageng (kendhang bem) dengan sebuah kendhang alit (kendhang ketipung) di depan kendhang ageng itu. Susunan itu, sifatnya disesuaikan dengan kebiasaan sang pemain kendhang. Ada juga yang memasang kendhang ageng, kendhang sabet, dan kendhang ketipung, semuanya bersusun ke arah depan. Lalu di sebelah kanannya dilletakkan kendhang ciblon. Ini merupakan susunan yang boleh dikatakan 'paling konvensional'. Tapi, pada pagelaran malam itu, ada sekitar sepuluh macam kendhang yang berbeda jenis dan ukuran. Saya sama sekali tak terbayangkan, bagaimana memainkannya. Para pesindhen (waranggana), yang jumlahnya cukup banyak, ada sekitar sembilan orang, ditempatkan tepat di sebelah kanan kanan tempat kedudukan ricikan kendhang. Sedangkan di sisi kiri tempat kedudukan ricikan kendhang, ditempatkan sejumlah wiraswara. Semua pesindhen (waranggana) dan wiraswara, menghadap ke arah depan (menghadap ke arah kelir wayang), dan tidak ada satupun yang menghadap ke arah penonton. [2]

Waktu sudah menunjuk sekitar jam tujuh malam. Tamu-tamu undangan sudah mulai berdatangan. Suasana benar-benar semarak. Saya memilih duduk di atas hamparan tikar, tepat di tengah-tengah. Jadi saya bisa melihat secara jelas ke arah kelir wayang. Bentangan tikar besar itu, secara sengaja rupanya tidak diletakkan rapat, sebaliknya diletakkan dengan diberi jarak sekitar semeter dengan bentangan tikar lainnya, maka penonton bisa meletakkan sepatu atau sandalnya di luar bentangan tikar itu. Suasananya benar-benar menyenangkan. Para penonton yang sudah hadir saling bersalaman dan saling ngbrol di antara mereka. Bau asap rokok kretek khas pedalaman merebak ke mana-mana. Beberapa penonton yang duduk di atas hamparan tikar itu, ada juga yang mulai 'ngemil', makan makanan kecil yang dijual para penjaja di sekitar tempat pagelaran. Banyak yang sambil makan kacang tanah rebus. Suasananya benar-benar ramai dan menyenangkan. Di lapang rumput, di bagian depan halaman kantor markas kepolisian itu, sejumlah anak-anak berlarian dengan gembira, mereka sibuk bermain di dekat orang-tuanya. Sementara orang-tuanya menunggu dimulainya pagelaran wayang, sambil memperhatikan anak-anaknya. Ada sejumlah penjaja makanan kecil dan angkringan; yang menjual makanan goreng dan makanan rebus pisang, ubi jalar, ketela, goreng jagung yang lebih dikenal dengan sebutan 'marning'. Juga ada yang menjual minuman hangat, seperti wedang sekoteng, teh hangat, juga kopi  panas. Di kejauhan, terlihat sekelompok penonton sedang menikmati makanan khas 'bakmi Jawa'. Ini merupakan bakmi khas Jawa, yang dimasak atau digoreng memakai arang kayu.

Di dekatnya, terlihat sejumlah pedagang mainan anak-anak tradisional, sedang sibuk melayani sejumlah anak yang merengek kepada orang-tuanya, meminta untuk dibelikan mainan. Mainan anak-anak yang dijual, umumnya buatan sendiri (buatan lokal), seperti 'othok-othok', yaitu mainan anak yang dibuat dari silinder karton, lalu diberi lembaran kertas tipis di permukaan lubangnya. Silinder karton itu lalu diberi tangkai bambu. Di ujung tangkai bambu itu diikatkan tali kecil pendek. Pada ujung tali itu, diikatkan pemukul kecil dari potongan kayu. Saat batang pemegang diputar memakai tangan, maka pemukul di ujung tali kecil itu akan memukul membran kertas tipis dan menghasilkan bunyi tok tok tok yang keras berulang-ulang. Ada mainan kapal-kapalan, kuda-kudaan kecil, burung-burungan kecil, lalu katak, dan kura-kura yang kalau ditarik tali pengikatnya, di kura-kura kecil itu lalu bisa berlari kencang ke arah depan. Aaah... dunia anak-anak memang menyenangkan. Beberapa penjual balon gas, memajang dagangannya sambil membunyikan terompet yang dibuat dari dua buah balon kecil, dengan peluit di antara kedua balon itu. Bunyinya tot-tet-tot-tet berisik sekali. Tapi, itu semua rupanya membuat anak-anak senang. Mereka berkumpul di sekeliling penjual balon gas itu, sambil merengek kepada orang tuanya, minta dibelikan balon warna-warni itu....

Tidak ada deretan kursi atau sofa yang disediakan bagi para penonton. Semua penonton, baik pejabat tinggi negara, tingkat menengah, maupun tingkat rendahan; baik sipil, kepolisian, atau militer, dan seluruh penonton; semuanya sama-sama duduk 'lesehan' bersila di atas tikar tebal itu. Jam gadang yang dipasang di dinding depan bangunan kantor markas kepolisian, menunjukkan sekitar pukul setengah-tujuh malam. Tamu-tamu undangan sudah mulai berdatangan. Suasananya terasa semakin semarak. Para petugas 'among tamu' membimbing para tamu undangan itu menuju tempat yang sudah disediakan. Beberapa pejabat kota yang datang sebagai tamu undangan, sibuk melepas sepatu dan kaos kaki, sambil duduk di bentangan tikar. Mereka saling tersenyum dengan tamu lainnya. Kadang mereka juga bersalaman dengan para penonton yang ada di sekitar tempat duduknya. Setelah melepas sepatu dan kaos kakinya, mereka duduk bersila dengan santai dan ngobrol dengan sesama penonton lainnya. Aaah.... suasananya benar-benar hangat, penuh keakraban, semua orang terlihat sangat menikmati malam yang menyenangkan itu. Beberapa pejabat kota yang datang menonton, melingkarkan syaal tebal di lehernya, untuk menahan dingin udara malam. Para pejabat negara, tentara, polisi, pamong-praja, pegawai negeri, dan semua lapisan masyarakat; sama-sama duduk di tempat yang sama, tak ada perbedaan apapun. Semuanya duduk di atas bentangan tikar besar dengan nyaman dan santai. Semuanya saling bertemu dan saling berjabat tangan dengan hangat.

Dari kejauhan, saya melihat para nayaga mulai naik ke panggung gamelan. Mereka menempati tempat masing-masing. Sembilan pesindhen yang malam itu semuanya terlihat cantik-cantik, perlahan-lahan dengan hati-hati melangkah masuk ke dalam panggung gamelan. Begitu juga para wiraswara. Beberapa saat hanya keheningan yang tampak. Tak ada suara apapun. Lalu perlahan terdengar juru rebab membunyikan ricikan rebabnya perlahan. Terdengar 'senggrengan' khas suara rebab. Kemudian, terdengar permainan gendhing dimulai dengan diawali suara rebab, dan diakhiri dengan suara gong mengalun berat. Klenengan wayangan-pun dimulailah sekitar setengah tujuh malam. Semuanya terasa semarak. Suara pesindhen dan wiraswara yang melantunkan tembang merdu, seakan membawa suara dari kahyangan. Suaranya gamelan dan semuanya, benar-benar membuat saya terpesona. Memang jauh berbeda, antara menggunakan gamelan biasa, dengan menggunakan gamelan perunggu yang luar biasa ini. Gemanya, suaranya, nadanya, dan segalanya memang sangat berbeda. Saya, malam itu benar-benar menikmati suguhan permainan gendhing wayangan yang diperdengarkan dengan penuh pesona.

Dua-tiga gendhing sudah dilewati, lalu permainan dihentikan. Pembawa acara, kemudian mempersilahkan ketua panitia ulang tahun kepolisian, untuk membacakan sambutannya. Sambutan berikutnya, dilakukan oleh Komandan Polisi, yang malam itu terlihat gagah dengan pakaian dinasnya. Juga tak lupa diucapkan selamat datang kepada seluruh tamu undangan serta penonton. Meskipun malam itu kelihatannya tak ada keharusan untuk memakai pakaian seragam militer atau polisi, tetapi kelihatan cukup banyak tamu yang mengenakan pakaian seragam lembaga resmi masing-masing. Banyak juga pejabat yang datang mengenakan jas lengkap, tetapi tanpa memakai dasi. Beberapa dari mereka, terlihat memakai pakaian safari batik (saat itu belum terlalu tren memakai jas safari batik). Ada juga sejumlah pejabat yang datang menggunakan pakaian tradisional Jawa, gaya Surakarta atau Yogyakarta. Pidato sambutan, terasa hanya singkat dan seperlunya saja. Tak bertele-tele, seperti pidato-pidato pejabat negara jaman sekarang. Kurang dari setengah jam, seluruh acara sambutan sudah selesai. Seluruh penonton bertepuk tangan, saat sambutan pejabat negara terakhir diakhiri.

Tiba-tiba saja, dari tengah-tengah deretan tempat duduk para pejabat negara itu, berdiri seseorang yang menggunakan pakaian tradisional Jawa. Orangnya berbadan agak besar, memakai pakaian tradisional Jawa gaya Surakarta, lengkap dengan keris dan blangkon berwarna coklat tua. Baju beskap-nya berwarna hitam atau mungkin juga coklat tua. Dengan anggun, perlahan-lahan ia berjalan menjauhi deretan para tamu terhormat itu. Setelah sampai di depan, sekitar dua atau tiga meter di depan deretan tempat duduk pada tamu terhormat itu, ia membalikkan tubuhnya. Ia, perlahan lalu membongkokkan tubuhnya, memberikan hormatnya kepada para pejabat negara, yang duduk di depannya. Kedua belah telapak tangannya, ditangkupkan, seakan hendak menghaturkan sembah. Lalu, dengan suara berat ia memperkenalkan dirinya dengan amat sangat sopan. Kemudian, ia mengucapkan beberapa kalimat ucapan terima-kasih dalam bahasa Jawa Krama-Inggil yang amat sangat halus. Ia, juga memperkenalkan diri sebagai 'dhalang' yang akan membawakan cerita malam itu. Dan, sangat dengan rendah hati, serta dengan nada suara yang juga rendah, beliau memperkenalkan dirinya: "Nami kula Narto Sabdho...." ("Nama saya Narto Sabdho...."). Saat itulah saya, para tamu, dan penonton, benar-benar terpesona dan diam membisu seribu bahasa....! Semua orang seperti tersihir...! Saat itulah, saya untuk pertama kali dalam hidup saya, bertemu dan melihat Ki Narto Sabdho (dari jarak sekitar 10 meter di depan saya)....

Pertama, saya sama sekali belum pernah tahu bagaimana wajah Ki Narto Sabdho. Kedua, saya sama sekali tak menduga, bahwa beliau akan menampilkan diri dan memperkenalkan dirinya dengan cara seperti itu. Biasanya, seorang 'dhalang' diperkenalkan oleh pembawa acara. Begitu juga pembacaan cerita atau lakon yang akan dipagelarkan. Tetapi malam itu, Ki Narto Sabdho sendiri, yang berdiri di hadapan khalayak ramai, dan dengan suara bernada rendah, memperkenalkan diri dengan bahasa tubuh yang terasa amat sangat menghormati tamu-tamunya. Lalu, ia mulai menjelaskan ringkasan cerita, yang akan dibawakannya malam itu. Saya, saat itu benar-benar terpesona dan terdiam. Bahkan, saya benar-benar tak memperhatikan sama sekali penjelasan beliau. Saya juga sama sekali tak tahu, malam itu lakon wayangnya apa. Seluruh perhatian saya saat itu, benar-benar tertuju kepada Ki Narto Sabdho yang berdiri pada jarak sekitar hanya 10 meter di depan saya. Saya seperti tersihir...! Sambutan dan penjelasan pendek itu diakhiri dengan ucapan selamat menikmati. Lalu, beliau membungkukkan badan kepada seluruh penonton. Tiba-tiba saja, seperti semua orang lepas dari pengaruh sihir, seluruh penonton yang hadir bertepuk tangan. Itu merupakan tepuk tangan paling lama dan paling meriah, yang pernah saya saksikan selama hidup. Perlahan-lahan beliau lalu membalikkan tubuhnya, dan naik ke panggung gamelan dengan hati-hati.

Saya semula mengira, Ki Narto Sabdho akan langsung menuju ke tempat dhalang, di depan kelir wayang. Tetapi, dugaan saya ternyata salah! Beliau ternyata duduk bersila di tempat ricikan kendhang. Beberapa saat kemudian, saya lihat beliau mengatur suara kendhang dan mengatur tempat kedudukan bermacam kendhang itu. Lalu, dengan aba-aba dari beliau, permainan gendhing pun dimulai. Gegap gempita suaranya. Iramanya luar biasa dinamis dan penuh dengan hentakan. Tak ada orang yang sempat memikirkan apa yang terjadi saat itu. Saya, benar-benar terpukau. Ki Narto Sabdho benar-benar memainkan sembilan kendhang. Suara yang dihasilkan benar-benar luar biasa. Hentakannya, tepakannya, dan gemuruh suara debumnya; semuanya seperti menyihir seluruh penonton. Saya bahkan, tak pernah sempat tahu gendhing apa yang dimainkan untuk mengiringi 'demonstrasi' permainan sembilan kendhang itu. Terasa ada nuansa Jawa, Sunda, dan Bali; sekaligus. Lalu tiba-tiba saja permainan dihentikan seketika dalam pola berhenti gropak (berhenti tiba-tiba). Saat permainan dihentikan, seluruh penonton tiba-tiba saja berteriak keras memuji, bersuit nyaring, dan bertepuk tangan amat sangat riuh.

Dengarkanlah permainan kendhang yang dimainkan oleh Ki Narto Sabdho almarhum, dan alunan Gendhing Talu Wayangan 12 dan 13 yang berasal dari masa lampau:


Semua penonton masih terpukau, saat tiba-tiba saja saya mendengar suara 'senggrengan' ricikan rebab. Ki Narto Sabdho juga masih duduk di tempat ricikan kendhang. Tiba-tiba saja, saya menyadari, bahwa Ki Narto Sabdho akan memainkan Gendhing Talu Wayangan. Itu tak biasa. Karena, biasanya yang memainkan para nayaga, dan bukan dhalang-nya. Saya juga tak terbayangkan, bagaimana nanti cara Ki Narto Sabdho akan berpindah tempat menuju  tempat kedudukan dhalang, jika beliau sendiri yang memainkan Gendhing Talu Wayangan. Sekali lagi, terdengar suara 'senggrengan' rebab yang menyayat. Lalu, beberapa saat kemudian, tanpa terasa kapan awal mulanya, Gendhing Talu Wayangan tiba-tiba saja sudah mengalun perlahan, penuh keanggunan, memecahkan kesunyian malam. Semua orang saat itu masih terdiam, belum bisa berkata-kata. Suara pesindhen dan para wiraswara, terdengar begitu merdu dan mengalun di kesunyian malam. Gamelan dimainkan secara halus dan penuh perasaan. Setiap kali sampai pada ujung permainan, gong ageng berbunyi anggun. Mengalun menembus relung-relung malam. Membawa mimpi-mimpi manusia ke alam nan jauh. Melupakan segala kejadian di dunia. Melupakan segala kesulitan kehidupan. Membawakan semua keindahan kehidupan. Bercerita tentang hidup kita sebagai manusia di alam nyata. Gendhing Talu Wayang mengalun mengikuti alur perjalanan waktu kehidupan manusia. Semakin lama, semakin dalam rasanya. Semakin lama, semakin membuat kita menjadi semakin sadar dan semakin tahu jalan kehidupan kita....

Sudah berlalu Gendhing Cucur Bawuk, lalu Pare-Anom, serta Ladrang Asri Katon. Lalu, perlahan pindah ke Ketawang Suksma-Ilang, yang mencekam. Seakan hendak menceritakan kepada kita, bahwa permainan kehidupan kita sudah menjelang masa akhir. Suara denting gambang kayu, sesekali terdengar menghiasi irama permainan gendhing. Alunan bilah-bilah ricikan gender pambarung, terdengar begitu merdu. Dan, saya begitu terpesona dengan permainan kendhang Ki Narto Sabdho, saat memainkan pola 'kendhangan kosek wayangan' yang menghentak-hentak. Lalu, sesekali terdengar suara suling, melengking menghias permainan karawitan. Semua itu, seakan membawa saya ke alam mimpi-mimpi. Di akhir permainan gendhing-gendhing itu, tiba-tiba saja irama dipercepat. Dan, tiba-tiba saja permainan lalu dipindahkan ke Ayak-ayak Talu. Bagian inilah yang saya selalu ingat, bahkan sampai sekarang. Perpindahannya selalu membuat seluruh bulu kuduk di seluruh tubuh saya lalu meremang berdiri. Suara gong suwukan yang berulang-ulang terdengar ditabuh, membuat suasana menjadi semakin mencekam. Lalu, saat gamelan mulai dipercepat dan dipindahkan ke Srepegan Manyura, beberapa lampu penerangan di dalam ruang tarub besar mulai dipadamkan satu per satu. Suasana, perlahan-lahan mulai berubah menjadi meredup. Cahaya lampu masih menyala di sebagian ruang tarub besar itu.....

Suara gamelan semakin cepat, suara kendhang menghentak-hentak keras dan cepat, lalu tiba-tiba saja gendhing pindah ke Sampak Manyura, dalam keadaan sirep dan suaranya terdengar pelan tapi cepat. [3]  Suara Sampak Manyura masih dalam keadaan 'sirep', saat dari kejauhan saya lihat Ki Narto Sabdho melambaikan tangan, seakan memberikan tanda kepada seseorang di antara para nayaganya. Dan, saya lihat seorang nayaga berdiri, lalu melangkah ke tempat duduk Ki Narto Sabdho. Ki Narto Sabdho perlahan lalu berdiri, sementara gamelan masih mengalunkan Sampak Manyura dalam keadaan 'sirep'. Nayaga yang menggantikan kedudukan Ki Narto Sabdho itu, lalu duduk di tempat Ki Narto Sabdho semula duduk. Sedangkan Ki Narto Sabdho perlahan-lahan berdiri dan kemudian melangkah ke tempat duduk dhalang. Lampu-lampu di seluruh ruang dalam tarub besar itu, kecuali lampu dhalang, tiba-tiba saja dimatikan satu per satu. Suasana terasa amat sangat mencekam. Saya juga mencium bau asap kemenyan dibakar oleh seseorang. Bersama dengan berpindahnya Ki Narto Sabdho ke tempat dhalang, saya melihat ada dua orang berpakaian hitam-hitam, seperti pakaian perajurit kuno, berjalan menuju ke depan. Salah seorang dari mereka, berjalan menuju ke sebelah kiri kotak wayang dan duduk bersila di situ. Seorang lainnya, berjalan perlahan menuju sisi kanan tempat duduk dhalang, dan duduk bersila di sebelah kanan 'eblek wayang'. Kedua orang ini, kelihatan berambut panjang. Memakai kain batik bermotif Parang-Rusak, dan memakai ikat kepala (bukan 'blangkon'). Setelah kedua orang itu duduk bersila di tempatnya, saya melihat ada satu orang lagi, berpakaian seperti nayaga lainnya, melangkah ke depan dan duduk di belakang Ki Narto Sabdho. Sampak Manyura bertalu-talu dalam irama yang tiba-tiba menjadi cepat dan ditabuh sedemikian keras. Lalu, tiba-tiba saja permainan dihentikan, dan digantikan dengan alunan nada-nada enam, yang monoton selama beberapa saat. Dan, setelah itu, permainan dihentikan dalam irama yang lambat, diakhiri dengan bunyi gong ageng mengalun. Talu selesai....

Suasana benar-benar sunyi selama beberapa menit. Tak ada suara apapun. Lalu, tiba-tiba terdengar suara gendhog dibunyikan menghentak kotak wayang. Dhog... dhog... dhog... dhog... dhog...dhrodhog. Hening sejenak. Lalu diikuti dengan tiga kali bunyi gedhog yang lambat. Dhog.... dhog.... dhog....  Dan, Gendhing Ayak-Ayak Manyura mulai dimainkan. Anggun, lambat, dan menggema ke seluruh ruang-ruang mimpi kita. Pertanda pagelaran wayang dimulai. Menampilkan refleksi kehidupan kita. Sesekali, terdengar suara kombangan merdu Ki Narto Sabdho, menimpali suara merdu alunan gamelan. Suasana, perlahan-lahan mulai mencair. Pagelaran wayang benar-benar telah dimulai dengan adegan paling awal, yaitu Jejeran Pathet Nem. Saya semalaman benar-benar terpukau dan selama semalam suntuk itu, saya sama sekali tak memicingkan mata sama sekali. Belakangan, saya baru mengetahui, kedua orang yang duduk bersila di sebelah kiri kotak wayang, menghadap ke arah dhalang (ke arah kanan), dan seorang lagi duduk bersila di sebelah kanan eblek wayang, menghadap ke arah dhalang (ke arah kiri); sebenarnya merupakan dua orang asisten dhalang, yang berperan membantu dhalang mengambilkan wayang dari simpingan dan mengambil wayang yang dilempar dhalang saat menampilkan adegan perang. Tapi, yang lebih mencengangkan saya, dua orang yang semula saya kira pria, ternyata dua orang wanita, yang dua-duanya sama-sama cantik...! Pantas saja, rambutnya tampak terurai panjang sekali, melewati bahu.....

Pagelaran semalam suntuk itu, terasa seperti mimpi. Tak terasa, tiba-tiba saja hari sudah subuh. Dan pagelaran wayangpun usai. Saya masih terduduk di tikar besar itu, saat semua orang mulai beranjak berdiri dan bersiap-siap pulang. Dari kejauhan, saya bisa melihat matahari mulai memancarkan semburat berkas cahaya merahnya si ufuk timur. Gendhing penutup masih terdengar dimainkan para nayaga. Lampu-lampu penerangan di dalam ruang tarub besar itu, satu per satu sudah dinyalakan kembali. Gong ageng, akhirnya dibunyikan, menandakan diakhirinya seluruh pagelaran wayang kulit purwa yang amat sangat luar biasa sepanjang malam.

Pagelaran wayang itulah,yang membuat saya begitu terpesona, sehingga tak pernah lagi bisa melupakannya, karena itu merupakan satu-satunya pagelaran wayang kulit purwa, yang menurut saya paling ajaib dan paling berkesan sepanjang hidup saya. Bahkan, meskipun saya sudah menyaksikan puluhan kali pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk, tetapi saya tak pernah menyaksikan pagelaran wayang kulit purwa berlangsung seperti itu. Begitu menggetarkan. Begitu berkesan, dan tak terlupakan sepanjang hayat. Bahkan, sampai saat inipun, saya masih bisa mendengar dan masih terbayang seluruh suasana yang hadir sekian puluh tahun yang lampau, seakan-akan saya baru menonton pagelaran wayang kulit purwa itu tadi malam....


____________________________



[1] Lama setelah peristiwa itu, yaitu pada sekitar tahun 1980-an, saat melakukan survei untuk bahan skripsi (skripsi saya berjudul "Gamelan Jawa"), saya melihat susunan ricikan kempul, gong suwukan, dan dong ageng; yang ditempatkan pada empat buah 'gayor' yang jauh lebih besar lagi, di Keraton Yogyakarta, saat diadakan pagelaran besar di Siti-Hinggil Keraton Yogyakarta. Jumlah ricikan gamelan yang digunakan, serta jumlah para nayaga penabuh gamelannya jauh lebih banyak. Menurut perkiraan saya waktu itu, lebih dari sepertiga luas ruang Siti-Hinggil itu digunakan untuk meletakkan seluruh ricikan gamelan. Seluruh penonton melihat dari arah belakang kelir wayang (melihat bayang-bayang wayang). Tak ada tempat yang disediakan untuk melihat dari arah depan kelir wayang.

[2] Pada suatu kesempatan, sepuluh tahun kemudian, yakni pada tahun 1976, dalam suatu pertemuan dengan Ki Narto Sabdho almarhum, di tempat tinggalnya, di Jalan Anggrek, Semarang; saya sempat menanyakan tentang penempatan pesindhen dan wiraswara. Menurut penjelasan beliau, pagelaran wayang kulit purwa bukanlah pagelaran pesindhen. Bahkan, beliau dengan tegas menyatakannya agak extrim: "Pagelaran wayang kuwi dudu pagelaran pesindhen. Uga dudu pameran pesindhen. Pesindhen lan siwaswara kuwi kudu nyengkuyung pagelaran wayang. Ora nggugu karepe dhewe. Aku, pancen duwe pesindhen ayu, swarane kung, sing malah sok diuber-uber ora mung diuber penonton, malah uga dhalange dhewe. Nanging sing baku, pagelaran iku pagelaran wayang, dudu pagelaran pesindhen...." ("Pagelaran wayang itu, bukanlah pagelaran pesindhen. Juga bukan pameran pesindhen. Pesindhen dan wiraswara, haruslah mendukung pagelaran wayang. Tidak menurut kehendak sendiri. Saya memang punya pesindhen yang cantik, swaranya bagus, yang sering malah dikejar-kejar tidak saja oleh penonton, malah juga dikejar-kejar oleh dhalang-nya sendiri. Tetapi, bagaimanapun juga, pagelaran itu pagelaran wayang, bukan pagelaran pesindhen...."). Karena itulah, pada setiap pagelaran wayang kulit purwa yang dilakukannya, Ki Narto Sabdho selalu menempatkan para pesindhen dan para wiraswara menghadap ke arah depan (ke arah kelir wayang) dan di tempatkan pada secara sangat terhormat di tengah-tengah, setara dengan kedudukan para nayaga.

[3] Perpindahan ke Sampak Manyura dalam keadaan 'sirep' inilah, yang membuat suasana Talu menjadi sedemikian mencekam dan sakral. Permainan inilah yang membedakan dengan perpindahan ke Sampak Manyura yang dilakukan pada jaman sekarang, yang dimainkan keras-keras, sehingga kehilangan suasana sakralnya.

SLENDHANG BIRU: SEBUAH CERITA KENANGAN...


Ini merupakan sebuah cerita 'true story' tentang tembang dan syair 'Slendhang Biru' yang amat sangat terkenal, bahkan sampai saat ini. Tembang romantis yang bernuansa agak sendu ini, sebenarnya menyimpan secuil rahasia kehidupan pribadi Ki Narto Sabdho di masa lampau. Diceritakan secara langsung oleh Ki Narto Sabdho almarhum, kepada saya dan isteri saya, saat kami berdua berkunjung ke tempat tinggal beliau di di Jl. Anggrek, dekat Simpang Lima, Semarang. Kejadiannya, pada tahun 1976, tepat saat liburan panjang semesteran (antara bulan Juli - September). Namun, tanggal dan hari tepatnya, saya benar-benar sudah tidak ingat lagi.

Pada masa sebelumnya, menurut cerita beliau, pernah ada seorang siswi pesindhen (pesindhen ajaran), yang berasal dari Kota Boja (lokasinya di sebelah barat-daya Kota Semarang, berjarak sekitar 25 km). Siswi pesindhen itu, masih remaja, umurnya sekitar 16 - 17 tahun. Anaknya cantik, menarik, pintar berbicara, dan sexy. Setidaknya begitulah gambaran Pak Narto tentang siswi pesindhen-nya itu. Setiap hari, jika datang berlatih di Jl. Anggrek, ia selalu diantar menggunakan mobil 'Colt' Mitsubishi baru (saat itu mobil Colt, Mitsubishi T-120 merupakan mobil yang sangat populer)....

Selama belajar 'nyindhen', Pak Narto rupanya jatuh hati. Mungkin karena sebagai wanita, siswi pesindhen ini kan masih muda dan kinyis-kinyis. Suaranya bagus, orangnya cantik dan sexy, pintar berbicara, lalu senyumnya sangat menawan. Tentang suara siswinya itu, Pak Narto menceritakan kepada kami berdua, bahwa jika orang mendengar suaranya yang begitu merdu, pasti akan tertarik, terpikat, dan jika pendengarnya seorang pria, sangat mungkin juga akan jatuh hati seketika. Saat menceritakan, mata Pak Narto tampak berbinar-binar. Rupanya, soal siswi pesindhen yang satu ini, benar-benar membuat dunia Pak Narto berubah total. Begitu diceritakan oleh Pak Narto kepada saya sambil tertawa terbahak-bahak. Sang siswi pesindhen yang cantik ini, meskipun sedang dalam tahap belajar, sesekali diajak Pak Narto ikut dalam berbagai pagelaran wayang kulit purwa. Saat sang siswi pesindhen cantik ini ikut pagelaran, dia selalu memakai kebaya berwarna ungu, dan menggunakan selendang berwarna biru. Di mata Pak Narto, kecantikan sang siswi pesindhen itu, diceritakan 'kaya widodari tumurun saka kayangan' (bagaikan bidadari turun dari kahyangan).....

Seperti apakah sebenarnya wajah dan penampilan siswi pesindhen dari Boja, yang berhasil membuat Ki Narto Sabdo benar-benar jatuh hati, kelabakan, dan sampai-sampai riwayatnya ditumpahkan menjadi sebuah tembang indah 'Slendhang Biru'...?
Latihan rutin 'nyindhen' itu, berjalan cukup lama. Dan, setiap hari, saat latihan berlangsung, Pak Narto selalu menunggui sendiri. Sudah menjadi kebiasaan Pak Narto dan grup kesenian pimpinannya, jika sedang tidak melakukan pagelaran wayang kulit purwa atau sedang tidak ada kegiatan rekaman; maka seluruh anggauta grup kesenian yang dipimpin oleh Pak Narto itu selalu melakukan latihan rutin, sebanyak dua kali dalam sehari. Pada sore hari, saat menjelang latihan kedua berakhir, Pak Narto selalu membiasakan diri untuk merekam hasil latihan hari itu. Untuk keperluan ini, digunakan sebuah perangkat perekam audio berukuran besar, yang menggunakan pita magnetik. Bentuk pitanya sama dengan pita kaset audio, berwarna coklat, tetapi digulung pada suatu rol plastik berukuran besar. Setelah itu, biasanya dilakukan evaluasi tentang hasil latihan hari itu.

Pesindhen yang bersuara merdu, merayu, cantik, centil, sexy, dan pandai berbicara; memang bisa membuat siapapun yang melihat dan/atau mendengarkan suaranya nan merdu merayu itu, menjadi jatuh hati.
Perjalanan melatih siswi pesindhen muda nan cantik ini, berlangsung cukup lama. Dan, selama waktu yang cukup lama itu, rupanya Pak Narto jatuh hati kepada siswinya itu. Entah apa yang membuatnya jatuh hati. Mungkin suaranya yang memang merdu merayu. Atau, kecantikannya yang luar biasa. Atau, karena kepandaian berbicaranya, yang memang amat sangat memikat dan menawan hati. Dan, Pak Narto entah dengan pertimbangan apa, pada suatu hari, Pak Narto meminta sang siswi pesindhen nan cantik itu untuk bersedia menjadi isterinya. Tetapi, permintaan Pak Narto itu, ternyata ditolak secara halus oleh sang siswi pesindhen nan cantik itu. Sang siswi nan cantik itu, ternyata sudah punya pasangan hidup. Karena itu, keinginan Pak Narto nggak kesampaian. Nah, dari peristiwa itulah, kemudian lahir tembang 'Slendhang Biru' yang sendu dan romantis; tetapi, isi syairnya sebenarnya mengandung kesedihan hati.

Suara merdu, wajah nan cantik, perangai yang centil, nada suara melankolis, senyum manis, perangai yang membuai, dan cara bicara yang memikat; memang bisa saja membuat banyak pria takluk dan memimpikan sang primadona itu sebagai kekasih...
Coba saja perhatikan isi syair tembang itu. Meskipun tembangnya dilantunkan secara gembira, sebenarnya isi syairnya berisi kesedihan hati Pak Narto. Ada terkandung nada putus-asa di sana. Saat beliau dulu bercerita kepada saya, beliau mengatakan : "Aku mung bisa nyawang saka kadohan. Ora bisa methik." Maksudnya, beliau hanya bisa melihat dari kejauhan dan sama sekali tak bisa 'memetik' (melamar) menjadi isterinya. Saat mengatakannya, saya merasakan ada semacam nada kekecewaan yang mendalam pada nada ucapan kalimatnya. Saya waktu itu, sampai terdiam dan terkesima, saat beliau tiba-tiba beliau bercerita tentang asal muasal tembang 'Slendhang Biru' itu. Padahal, saya waktu itu sama sekali tidak berkehendak menanyakan hal itu (karena memang nggak tahu). Tetapi, saya saat itu memang menanyakan kepada beliau, bagaimana sistem latihan yang diterapkan Pak Narto pada grup Condong Raos. Jadi, sebenarnya topik pembicaraan saat itu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan soal pesindhen ajaran itu. Tapi entah kenapa, tiba-tiba beliau berhenti bercerita tentang sistem latihan, dan berganti topik begitu saja, dengan bercerita tentang peristiwa dengan pesindhen cantik muda belia itu.... 

Ki Narto Sabdho almarhum bisa jadi memang pengagum berat Bung Karno. Mungkin karena itu pula, maka ada salah satu pose foto beliau yang menggunakan pakaian ala Bung Karno, lengkap dengan lambang garuda emas di dada kirinya.
Sebagai informasi, dalam pertemuan itu, saya ditemani isteri saya. Sedangkan beliau, juga bersama isteri tertua beliau. Isteri beliau tampak tak terpengaruh oleh cerita itu. Dan, malah menambahkan, bahwa Pak Narto menuliskan semua gagasannya di kamar mandi, saat buang air. Di kamar mandi itu, isteri beliau menceritakan, selalu disediakan notes kecil dan pensil yang diikat menggunakan benang, dan digantung pakai paku di tembok. Dari ruang kecil itulah tembang sendu 'Slendhang Biru' yang terkenal itu dihasilkan.....

Di luar cerita tentang bagaimana tembang dan syair 'Slendhang Biru' itu disusun, sebenarnya masih ada sebuah rahasia kecil, yang saat itu juga sempat diceritakan kepada kami berdua. Sebenarnya, ada satu deret kata di dalam syair Tembang Slendhang Biru yang diganti (disembunyikan maksudnya) oleh Pak Narto. Menurut beliau, kalimat syair tembangnya yang berbunyi "Ora tekan batin setyamu..." (tidak sampai ke batin/hati kesetiaanmu), sebenarnya semula (aslinya) berbunyi 'Ora tekan batin sedyaku" (Tak sampai keinginan hatiku). Dua kalimat itu artinya amat sangat berbeda kan. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, lalu jadi seperti yang sekarang kita dengarkan, yaitu menjadi "Ora tekan batin setyamu..." Susunan kalimat dalam syair itu (setelah diubah sedikit), jadi agak aneh, dan agak tak masuk logika. Coba perhatikan, kan bunyinya "Ora tekan batin setyamu..." yang kalau diartikan, kan jadinya "tak kesampaian batin kesetiaanmu..." Nggak logis kan? Yang lebih logis itu ya kalimat aslinya, yang bunyinya "Ora tekan batin sedyaku'" yang artinya 'tak kesampaian keinginan hatiku'.... 

Mengenang Pak Narto Sabdho almarhum, sama dengan mengenang seseorang yang penuh dengan kreatifitas tak terduga. Ha ha ha canggih sekali ya beliau... Bisa mempermainkan kalimat sampai seperti itu dan kita sebagai pendengarnya, sebagian besar tak pernah tahu bagaimana dulu sejarahnya. Sayang sekali, saya saking terpesonanya dengan cerita secuil 'rahasia' beliau itu, sampai-sampai tak ingat sama sekali untuk menanyakan nama siswi pesindhen nan cantik itu, yang sudah membuat hati Pak Narto Sabdho gundah-gulana. Jika kita mencermati syairnya, jelas terlihat, bahwa beliau juga berkehendak untuk merahasiakan nama sang siswi pesindhen yang sudah berhasil memikat hatinya. Buktinya, pada syair tembangnya, beliau 'memanggil' gadis kesayangannya itu dengan panggilan 'slendhang biru', dan sama sekali tak menyebut nama. Seakan mau mengatakan "Dia yang berselendang biru..." Dengan tertawa renyah, beliau hanya menyatakan: "Omahne Mboja" (Rumahnya di Boja).

Saat kami berdua mohon diri untuk pulang, beliau dengan senyum khasnya seperti hendak mengatakan kepada kami berdua: "Simpenen crita kuwi ya..." (Simpanlah cerita itu ya). Dan saya, memang selalu mengingat dan menyimpan cerita itu secara rapih di dalam hati, sepanjang hayat. Bukannya apa-apa, karena cerita itu punya sejarah unik, yang mungkin saja hanya diceritakan kepada kami berdua......


Syair 'Slendhang Biru'

Kedep tesmak,
Aku nyawang slendhang biru,
Gelungane methok,

Lamatan tasikane,
Ngagem kebaya wungu,
Nyamping batik solahe,

Esemme slagane gawe bingung,
Nyata kagunane gede paedahe,

Amung kuciwane,
Lho lho,

Anyelaki janji,
Slendang biru,
Slendang biru,
Amung ngenaki ati,
Nora tekan batin setyamu,
Slendang biru,
Tetepana janjimu,
Slendang biru.


Terjemahan:

Terpesona (aku) tak berkedip,
Aku melihat melihat (engkau memakai) selendang biru,
Gelungan-nya terlihat menarik,
Bedakan (di pipimu tampak) tipis,
Menggunakan baju kebaya berwarna ungu,
Berkain batik, peri-lakunya,
Senyumnya, solah-tingkahnya membuat bingung,
Nyata sekali kepandaiannya sangat berguna,

Namun, yang (sangat) mengecewakan,
Lo... lo...,

(Ternyata) mengingkari janji,
Selendang biru,
Selendang biru,
Hanya menyenangkan hati (saja),
Tak sampai ke batin / hati kesetiaanmu,
Selendang biru,
Tepatilah janjimu,
Selendang biru.


Dengarkan dan nikmatilah tembang dan syair 'Slendhang Biru'....

http://youtu.be/VP9_CLfUOEU